Dua kapal Pertamina tertahan di Teluk Persia akibat konflik Timur Tengah

Dengan strategi diversifikasi pasokan dan koordinasi diplomatik, pemerintah berupaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak konflik yang berdampak pada rantai distribusi global.

By
Kementerian ESDM menyebut pemerintah menempuh jalur diplomatik agar kapal keluar dari zona risiko. / Dok. Pertamina International Shipping

Indonesia menyiapkan minyak mentah asal Amerika Serikat sebagai opsi cadangan setelah dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di kawasan Teluk Persia akibat eskalasi perang Iran–Israel yang mengganggu lalu lintas energi global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan pemerintah tengah mengupayakan jalur diplomatik untuk memastikan kapal-kapal tersebut dapat keluar dari wilayah berisiko. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa langkah antisipatif telah disiapkan.

PIS melaporkan empat armadanya beroperasi di kawasan tersebut. Dua di antaranya masih berada di Teluk Persia: MT Pertamina Pride dan MT Gamsunoro. Pertamina Pride telah menyelesaikan proses muat di Ras Tanura, Arab Saudi, tetapi belum dapat meninggalkan perairan itu. Sementara Gamsunoro masih melakukan pemuatan di Khor al-Zubair, Irak, untuk pasokan energi ke Indonesia.

Adapun dua kapal lainnya berada di lokasi yang relatif lebih aman: PIS Rinjani berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, dan PIS Paragon tengah membongkar muatan di Oman.

Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri serta perwakilan RI di Abu Dhabi dan Dubai untuk memperkuat langkah antisipasi.

Selat Hormuz lumpuh

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak tersibuk di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas yang membuat arus energi hampir terhenti. Selama ini, sekitar 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah.

Sebagai respons, pemerintah mengalihkan sebagian volume impor tersebut ke Amerika Serikat. Bahlil menyebut pengalihan ini bertujuan menutup celah pasokan yang biasa dipenuhi kawasan Timur Tengah.

Indonesia baru saja menyepakati komitmen pembelian minyak mentah AS senilai $4,5 miliar. Kesepakatan tersebut juga mencakup impor LPG senilai $3,5 miliar serta bensin olahan sebesar $7 miliar.

Di tengah ketidakpastian kawasan, juru bicara Pertamina memastikan dua kapal yang berada di sekitar Selat Hormuz dalam kondisi aman, dengan keselamatan awak dan aset menjadi prioritas utama.

Dengan strategi diversifikasi pasokan dan koordinasi diplomatik, pemerintah berupaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak konflik yang berdampak pada rantai distribusi global.