India, salah satu konsumen minyak dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dinilai sebagai negara yang paling rentan terhadap guncangan pasokan minyak mentah jika konflik di Timur Tengah memicu gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman dari kawasan tersebut. Hal ini terutama disebabkan oleh cadangan minyaknya yang relatif tipis, menurut para analis.
China dan India, dua konsumen energi terbesar di Asia, sama-sama mengimpor sekitar setengah kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah. Namun, cadangan minyak India jauh lebih kecil dibandingkan China dan kini lebih bergantung pada pasokan kawasan tersebut dibandingkan dalam tiga tahun terakhir.
“China memiliki setidaknya persediaan minyak mentah untuk enam bulan. Persediaan India jauh lebih rendah, sehingga jauh lebih rentan dalam situasi seperti ini,” kata Ajay Parmar, Direktur Energi dan Pengilangan di ICIS, lembaga riset komoditas.
Risiko terhadap dua ekonomi utama Asia ini mencerminkan dampak luas dari serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang memicu konflik regional dan secara efektif menutup Selat Hormuz — jalur strategis tempat sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirimkan. Harga minyak acuan global Brent melonjak sekitar 7 persen pada Senin, dan perang berkepanjangan berpotensi mendorong harga bahan bakar lebih tinggi lagi.
Per Januari, Timur Tengah menyumbang sekitar 55 persen impor minyak mentah India, atau sekitar 2,74 juta barel per hari.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak akhir 2022, setelah kilang-kilang India mengurangi pembelian minyak Rusia di bawah tekanan Washington.
Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri, mengatakan kepada parlemen bulan lalu bahwa India memiliki cadangan minyak dan bahan bakar yang cukup untuk sekitar 74 hari.
Namun sumber di sektor pengilangan mengatakan kepada Reuters bahwa persediaan aktual saat ini hanya mencukupi sekitar 20 hingga 25 hari.
Opsi yang belum jelas
Potensi krisis ini dapat memaksa India mencari pasokan dari wilayah lain. Kementerian Perminyakan India menyatakan dalam unggahan di platform X pada Senin bahwa pemerintah akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan ketersediaan bahan bakar dengan harga terjangkau.
Gedung Putih dan Kantor Pengawasan Aset Asing belum memberikan tanggapan atas pertanyaan apakah Amerika Serikat akan menjamin India dapat kembali membeli minyak Rusia tanpa dikenakan kembali tarif impor 25 persen.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Departemen Keuangan dan Energi akan mengumumkan langkah pada Selasa untuk meredam kenaikan harga energi.
Asia membeli hampir 90 persen ekspor minyak Timur Tengah.
Jepang dan Korea Selatan masing-masing mengimpor sekitar 95 persen dan 70 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Namun, kedua negara memiliki cadangan jauh lebih besar dibandingkan India dan China.
Cadangan minyak Jepang setara dengan 254 hari konsumsi, sementara pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan persediaan negaranya cukup untuk sekitar 208 hari.
Risiko global yang lebih luas
Eropa dan Amerika Serikat bukan pembeli utama minyak Timur Tengah, namun tetap akan merasakan dampak jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz berlangsung lama, dalam bentuk kenaikan harga global, kata para analis.
“Jika perang berlangsung lama dan Selat Hormuz tidak dapat digunakan dalam waktu lama, semua negara di dunia akan bersaing memperebutkan setiap tambahan barel minyak yang tersedia,” kata Parmar.
Matt Smith, analis di Kpler, mengatakan Eropa berpotensi menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan bakar jet, karena kawasan Teluk menyumbang sekitar 45 persen impor bahan bakar jet yang diangkut melalui laut ke Eropa.
Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir telah mengurangi impor minyak dari Timur Tengah seiring posisinya sebagai produsen minyak dan gas terbesar dunia. Tahun lalu, AS membeli kurang dari 900.000 barel per hari dari negara-negara Teluk, menurut data pemerintah.
Seorang pejabat AS mengatakan Washington saat ini belum membahas pelepasan cadangan dari Strategic Petroleum Reserve. Namun, pemerintahan sebelumnya pernah menggunakan cadangan tersebut pada masa perang.







