Turkiye telah memberikan sinyal kuat untuk kerja sama ekonomi dalam rekonstruksi Suriah setelah rezim Baath yang berkuasa selama 61 tahun runtuh pada awal Desember tahun lalu, meninggalkan negara dengan masalah ekonomi dan infrastruktur yang signifikan.
Menteri Perdagangan Türkiye, Omer Bolat, bersama dengan kamar dagang dan industri serta organisasi non-pemerintah (LSM) di bidang ekonomi dan perdagangan, mengadakan pertemuan untuk membahas rekonstruksi Suriah serta memperkuat ekonomi dan perdagangan negara tersebut, menurut pernyataan Kementerian Perdagangan pada hari Selasa.
Membangun struktur negara yang berkelanjutan, perdamaian, dan keamanan di Suriah menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut.
Kementerian menyatakan bahwa diperlukan kerja sama yang kuat antara Turkiye dan Suriah setelah perang saudara selama 13 tahun untuk menciptakan lingkungan yang stabil secara politik dan ekonomi di masa mendatang.
Bashar al-Assad, pemimpin rezim Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia setelah kelompok anti-rezim merebut Damaskus pada 8 Desember 2024, yang menandai berakhirnya kekuasaan Partai Baath.
Serangan rezim Baath terhadap infrastruktur dan penduduk Suriah untuk mempertahankan kekuasaan telah meninggalkan ekonomi yang hancur, sementara perang saudara yang dimulai pada tahun 2011 semakin menghambat perkembangan negara tersebut dan sumber daya manusianya.
Perang tersebut menghancurkan rumah, bisnis, sekolah, distribusi listrik, dan menyebabkan 6 juta orang mengungsi ke berbagai belahan dunia serta 7 juta orang mengungsi di dalam negeri Suriah.
SUMBER: TRT WORLD DAN AGENSI









