Krisis energi Asia memanas akibat konflik Iran, harga minyak melonjak

Negara-negara di Asia mulai berlomba menghemat energi dan melindungi konsumen di tengah terganggunya pasokan minyak dan gas akibat konflik di Iran yang mengguncang pasar global.

By
Krisis energi melanda Asia. / AP

Negara-negara di kawasan Asia menghadapi tekanan besar setelah konflik yang melibatkan Iran mengganggu pasokan energi global. Serangan terhadap ladang gas dan kilang minyak, serta meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, mendorong lonjakan harga energi dan memicu kekhawatiran pasar.

Ketergantungan tinggi Asia terhadap impor energi membuat kawasan ini paling rentan. Jalur penting Selat Hormuz—yang menjadi titik utama pengiriman minyak dunia—kini berada dalam tekanan. Sejak eskalasi konflik pada akhir Februari, hanya sekitar 90 kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut.

Pejabat Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (ESCAP), Michael Williamson, menyebut dampak gangguan pasokan ini paling terasa di Asia dibandingkan kawasan lain. Analis juga memperingatkan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi.

Jepang hingga Korea Selatan mulai terdampak

Jepang menjadi salah satu negara yang paling terpapar, dengan sekitar 93% impor minyaknya melewati Selat Hormuz. Harga bahan bakar di negara itu mulai naik signifikan. Pemerintah pun telah mengeluarkan cadangan minyak untuk meredam dampak.

Korea Selatan juga menghadapi tekanan serupa. Kenaikan harga memicu antrean di SPBU, sementara sektor logistik dan pertanian mulai terbebani biaya. Pemerintah mempertimbangkan peningkatan produksi listrik berbasis batu bara dan nuklir untuk menjaga pasokan energi.

China relatif stabil, Asia Tenggara mulai tertekan

Di sisi lain, China dinilai lebih siap menghadapi krisis berkat cadangan energi yang besar dan penggunaan energi terbarukan yang terus meningkat. Meski begitu, masyarakat tetap merasakan kenaikan biaya perjalanan dan bahan bakar.

Sementara itu, Vietnam dan Thailand mulai merasakan dampak langsung pada sektor industri dan listrik. Biaya produksi meningkat, dan pemerintah setempat mengambil langkah darurat seperti pengendalian harga hingga penghematan energi.

Indonesia dihadapkan pada dilema subsidi

Di Indonesia, pemerintah sejauh ini masih menahan kenaikan harga energi. Namun, kebijakan tersebut diperkirakan hanya bertahan hingga setelah Idulfitri.

Analis menilai pemerintah akan segera menghadapi pilihan sulit: mempertahankan subsidi energi yang membebani anggaran atau menguranginya dengan risiko mendorong inflasi.

Negara lain ambil langkah darurat

Sejumlah negara lain juga mulai mengambil langkah cepat. Filipina menyalurkan bantuan tunai kepada pengemudi transportasi umum, sementara Pakistan menutup sekolah sementara dan mengurangi penggunaan bahan bakar pemerintah.

India meningkatkan produksi gas domestik untuk kebutuhan rumah tangga, sedangkan Nepal mulai membatasi distribusi gas elpiji guna menjaga ketersediaan.

Dengan konflik yang belum mereda, negara-negara Asia diperkirakan akan terus menghadapi tekanan besar pada sektor energi, yang berpotensi meluas ke berbagai aspek ekonomi dan kehidupan masyarakat.