Washington DC — Seiring bergulirnya Piala Dunia 2026 yang kini memasuki fase akhir, laga semifinal yang mempertemukan salah satu raksasa Eropa dengan kekuatan utama Amerika Selatan dipastikan menjadi duel yang paling dinantikan.
Inggris dan Argentina akan kembali menuliskan babak baru dalam salah satu rivalitas paling bersejarah di dunia sepak bola saat keduanya bentrok di semifinal Piala Dunia FIFA pada hari Rabu, demi memperebutkan satu tiket ke partai final.
Pertemuan kedua tim selalu membawa beban sejarah selama puluhan tahun; mulai dari kemenangan dramatis Argentina di perempat final 1986—yang dikenang lewat gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona serta gol solo indahnya—hingga kemenangan Inggris di fase grup edisi 2002, serta serangkaian duel sengit lainnya yang kerap melampaui batas lapangan hijau.
Sebagian pihak bahkan kerap mengaitkan laga ini dengan isu Kepulauan Falkland (yang dikenal sebagai Malvinas di Argentina), isu sensitif yang belum sepenuhnya padam bagi kedua negara meski konflik bersenjata tahun 1982 telah berlalu lebih dari empat dekade.
Pertemuan terbaru ini kini menyuguhkan kesempatan emas bagi kedua negara untuk melangkah satu tapak lebih dekat demi mengangkat trofi paling prestisius di jagat sepak bola.

Inggris waspadai 'trik kotor' Argentina
Inggris berhasil menembus babak empat besar setelah melewati rute fase gugur yang terbilang terjal, termasuk menumbangkan salah satu tuan rumah Meksiko sebelum akhirnya mendepak Norwegia untuk menyegel tempat di semifinal.
Skuad asuhan Thomas Tuchel ini kerap mengandalkan formasi 4-2-3-1 yang bisa bertransformasi menjadi 4-3-3 atau bahkan 3-2-5 saat sedang menguasai bola.
Gaya main Inggris bertumpu pada penguasaan bola yang teratur dikombinasikan dengan serangan vertikal yang cepat. Mereka juga gemar mengeksploitasi kedua sektor sayap, di mana para pemain sayap akan menusuk ke dalam kotak penalti untuk melepaskan umpan silang akurat atau operan-operan pendek cepat ke lini depan.
Kekuatan utama lain dari The Three Lions terletak pada situasi bola mati (set-pieces). Sepanjang turnamen ini, Inggris telah mengemas 13 gol, di mana lima di antaranya lahir dari skema bola mati.
Sosok kunci Inggris adalah Jude Bellingham, yang mengemban peran sebagai jenderal lapangan tengah sepanjang turnamen, meski kontribusinya di lapangan jauh melampaui sekadar pembagi bola.
Pada laga babak 16 besar kontra Meksiko, Bellingham tampil di setiap jengkal lapangan — mencetak gol, mengkreasi peluang, sekaligus ikut bertahan dengan solid setelah Inggris harus bermain dengan 10 orang.
Sang ujung tombak, Harry Kane, juga memegang peran krusial dengan sering turun menjemput bola untuk menghubungkan lini tengah sekaligus membantu merancang serangan.
Saat ditanya mengenai duel klasik melawan Argentina, penjaga gawang Jordan Pickford menegaskan bahwa Argentina bukan cuma tentang sosok Lionel Messi semata.
"Kita semua tahu betapa hebatnya Messi, tetapi kita juga tahu seberapa kuatnya skuad Argentina secara keseluruhan," ujar Pickford. "Kami juga memetakan kekuatan mereka yang lain, serta titik-titik lemah mereka yang bisa kami manfaatkan."
Langkah Argentina menuju semifinal sempat diwarnai riak kontroversi terkait keputusan wasit, tudingan bias, hingga kelihaian mereka memperagakan trik-trik kotor (dark arts) di lapangan. Kendati demikian, Pickford menegaskan bahwa Inggris tidak akan terdistraksi oleh hal tersebut.
"Sepanjang turnamen ini, Anda bisa melihat betapa besarnya gairah kami untuk memenangkan gelar. Kami tidak terlibat dalam keributan atau hal semacamnya; kami sangat menghormati nilai-nilai dalam permainan ini," tambahnya. "Keputusan wasit bisa menguntungkan atau merugikan kami. Kami hanya perlu fokus kembali dan membiarkan sepak bola yang berbicara di lapangan."
Di luar lapangan, para pendukung Argentina pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Beberapa dari mereka bahkan membekukan tulisan nama kapten Inggris, Harry Kane, di dalam lemari es—sebuah ritual mistis yang diyakini secara turun-temurun dapat membawa keberuntungan bagi tim nasional mereka di lapangan.
Praktik unik tersebut merupakan bagian dari tradisi panjang masyarakat Argentina yang disebut cabalas — sebuah takhayul yang dipercaya fans dapat memengaruhi nasib baik tim kesayangan mereka.
Tradisi ini memang mengakar sangat kuat. Carlos Bilardo, pelatih legendaris yang membawa Argentina merengkuh trofi Piala Dunia 1986, dikenal luas karena takhayulnya yang rumit, seperti mengatur urutan pemain saat melangkah masuk ke lapangan. Hal inilah yang membuat tradisi cabalas begitu melekat dalam kultur sepak bola Argentina.
Bahkan pelatih Argentina saat ini, Lionel Scaloni, mengakui bahwa ia memiliki ritual pribadinya sendiri. "Saya selalu melangkah masuk ke lapangan dengan kaki kanan terlebih dahulu dan membuat tanda salib," ungkapnya selama turnamen berlangsung.
Sementara itu, dalam sebuah wawancara bersama ITV, kapten Inggris Harry Kane sempat ditanya apakah mengendalikan tensi dan emosi pada laga yang digelar di Atlanta nanti akan menjadi tantangan tersendiri.
"Bisa ya, bisa tidak," jawab Kane. "Menurut saya, hal-hal historis di luar lapangan bukanlah sesuatu yang harus terlalu kami pikirkan secara berlebihan."
"Dari sudut pandang pemain, ini adalah duel antara kami melawan tim hebat yang cerdas, taktis, tahu cara memancing pelanggaran, dan paham bagaimana cara memperlambat tempo permainan — sama seperti berbagai tim tangguh yang biasa Anda hadapi sepanjang karier profesional Anda."
"Jadi, ini adalah duel antara Inggris melawan Argentina, pertemuan dua kekuatan besar sepak bola yang saling berhadapan langsung. Dua raksasa di semifinal Piala Dunia. Bagi kami, sisa cerita di luar itu hanyalah bumbu pelengkap saja."
'Hanya sebuah pertandingan sepak bola'
Di sisi lain, Argentina terus memelihara mimpi mereka untuk mempertahankan gelar juara Piala Dunia secara beruntun. Meski jalur fase gugur yang mereka lewati terbilang lebih ringan dibanding tim lain, Albiceleste nyatanya harus bersusah payah di setiap laga.
Mereka sempat dibuat ketar-ketir oleh Tanjung Verde dan Mesir di babak 32 besar dan 16 besar, sebelum akhirnya dipaksa bermain hingga babak perpanjangan waktu oleh Swiss di perempat final setelah bermain imbang 1-1.
Anak-anak asuh Lionel Scaloni kerap mengandalkan formasi dasar 4-3-3 atau 4-4-2. Gaya permainan mereka sangat tersentralisasi pada sosok Lionel Messi, yang kerap menusuk dari sisi sayap untuk melakukan kombinasi satu-dua cepat atau mencari solusi individu yang kreatif — aspek yang memang menjadi keahlian utamanya.
Namun, ketika Messi dikawal ketat atau berhasil dimatikan, Argentina kerap kali terlihat kehabisan opsi serangan. Celah inilah yang terlihat sangat mencolok selama laga-laga di fase gugur sebelumnya.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mencoba meredam tensi panas pascakemenangan dramatis atas Swiss di perempat final, dengan menegaskan bahwa laga ini "hanya sebuah pertandingan sepak bola biasa."
"Jangan mencari-cari narasi lain di luar itu," kata Scaloni. "Ini hanyalah sebuah pertandingan sepak bola. Kami akan bertanding melawan tim nasional hebat yang memiliki pelatih luar biasa, sosok yang sangat saya hormati dan kagumi."
Penyerang Jose Manuel Lopez juga mengakui adanya beban sejarah yang membayangi laga ini, namun ia menegaskan timnya akan tetap bersikap profesional.
"Tentu saja, di luar garis lapangan, ini adalah laga yang sarat sejarah, penuh luka masa lalu, dan memiliki latar belakang yang sangat mendalam," ujarnya kepada wartawan.
Keuntungan taktis
Meskipun kedua tim dinilai memiliki kekuatan yang berimbang, terdapat beberapa detail taktis yang bisa dimanfaatkan oleh masing-masing kubu.
Di kubu Inggris, Jarell Quansah dipastikan absen dalam laga ini akibat kartu merah langsung yang diterimanya saat menghadapi Meksiko di babak 16 besar.
Sementara di kubu lawan, Argentina kemungkinan besar akan didera masalah kelelahan fisik yang cukup menguras tenaga.
Argentina harus berturut-turut menghadapi Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss sejak babak 32 besar hingga perempat final. Ditambah lagi, mereka dipaksa bermain hingga babak perpanjangan waktu saat meladeni Tanjung Verde dan Swiss.
Mereka juga selalu mendapat tekanan hebat di setiap laga fase gugur, termasuk harus melakukan aksi comeback telat di menit-menit akhir kontra Mesir, serta hanya mampu menang tipis atas Tanjung Verde dan Swiss.
Dengan tiket final Piala Dunia yang menjadi taruhannya, ditambah bayang-bayang rivalitas sengit kedua negara, margin kesalahan dalam laga ini diprediksi akan sangat tipis dalam duel yang berpotensi melahirkan sejarah baru bagi kedua negara.
















