BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Saham Asia bergerak fluktuatif di tengah tekanan valuasi AI dan geopolitik global
Indeks dolar AS bertahan di sekitar level 101,4, tetap dekat posisi tertinggi dalam satu tahun, didukung ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam tahun ini.
Saham Asia bergerak fluktuatif di tengah tekanan valuasi AI dan geopolitik global
Indeks KOSPI Korea Selatan sempat anjlok hingga 3,4 persen di awal sesi, sebelum memangkas pelemahan menjadi sekitar 2 persen. / Reuters

Pasar saham Asia bergerak fluktuatif pada awal pekan, seiring investor menimbang prospek pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah kekhawatiran valuasi serta ketegangan geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat dan Iran.

Indeks MSCI Emerging Markets Asia tercatat hampir tidak berubah dan bertahan di dekat level terendah dua pekan terakhir. Sementara itu, indeks saham kawasan ASEAN justru menguat sekitar 0,4 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dalam dua pekan.

Pergerakan bursa di kawasan berlangsung beragam. Di Korea Selatan, indeks KOSPI sempat anjlok hingga 3,4 persen di awal sesi, sebelum memangkas pelemahan menjadi sekitar 2 persen. Pekan sebelumnya, indeks tersebut sudah terkoreksi sekitar 7 persen.

Sebaliknya, pasar Taiwan mencatat penguatan hingga 2,1 persen. Sepanjang tahun ini, indeks tersebut telah naik sekitar 56 persen dan menjadi salah satu kinerja terbaik di kawasan, hanya di bawah Korea Selatan yang melonjak hingga 97 persen.

Sentimen AI dan geopolitik

Pelaku pasar masih menyoroti risiko dari reli saham berbasis AI yang dinilai mulai terlalu tinggi. Menurut analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, bahwa perhatian utama saat ini adalah keberlanjutan keuntungan dari investasi AI serta dampak biaya produksi yang mulai meningkat.

“Fokus pasar saat ini adalah pada pengembalian investasi dari AI dan apakah tekanan biaya mulai menyebar ke rantai pasok,” ujar Rodda kepada Reuters.

Di Asia Tenggara, bursa Thailand menguat lebih dari 1 persen, didorong oleh lonjakan saham Delta Electronics Thailand yang naik sekitar 5 persen pada perdagangan hari itu dan telah menguat 84 persen sepanjang tahun.

Sementara itu, indeks saham Malaysia melemah sekitar 0,5 persen. Di Indonesia, IHSG terkoreksi 0,4 persen dan berada di jalur menuju kinerja Juni terburuk sejak 2015, dengan penurunan bulanan sekitar 4,5 persen serta tren pelemahan selama enam bulan berturut-turut.

Dari sisi geopolitik, pasar masih mencermati kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan aksi saling serang serta membuka kembali jalur dialog di Qatar. Perkembangan ini belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran investor.

Indeks dolar AS bertahan di sekitar level 101,4, tetap dekat posisi tertinggi dalam satu tahun, didukung ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam tahun ini.

Sementara itu, pelaku pasar global juga mencermati perkembangan ekonomi lain, termasuk lonjakan utang dan harga minyak, serta arah kebijakan moneter AS yang diperkirakan masih cenderung ketat dalam waktu dekat.

TerkaitTRT Indonesia - Pasar saham Asia goyah, harga minyak tetap tinggi saat konflik AS-Iran meningkat
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi