Indonesia dan China membuka peluang kerja sama yang lebih luas di sektor kesehatan, mulai dari pengendalian penyakit hingga pemanfaatan teknologi medis canggih. Hal ini mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala Komisi Kesehatan Nasional China, Lei Haichao, di Beijing.
Dalam pertemuan tersebut, Budi menilai kedua negara memiliki kesamaan prioritas dalam transformasi layanan kesehatan dan pencegahan penyakit. Kesamaan ini dinilai menjadi dasar kuat untuk memperdalam kolaborasi yang saling menguntungkan.
Salah satu fokus utama yang disorot adalah penanganan tuberkulosis (TBC). Indonesia menyatakan minat untuk mempelajari pengalaman China yang dinilai berhasil menekan prevalensi penyakit tersebut. Selain itu, pemerintah juga ingin memperkuat digitalisasi sistem kesehatan serta mengadopsi teknologi mutakhir, termasuk pengembangan brain-to-computer interface.
Kerja sama yang sudah berjalan pun mendapat apresiasi. Dalam setahun terakhir, sebanyak 113 dokter Indonesia telah mengikuti program fellowship di berbagai rumah sakit di China. Program ini dinilai berperan dalam meningkatkan kapasitas tenaga medis nasional.
Untuk memperkuat koordinasi ke depan, Indonesia mengusulkan penyelenggaraan pertemuan komite bersama yang dapat digelar di Tanah Air, sebagai wadah menyelaraskan langkah menghadapi tantangan kesehatan yang terus berkembang.
Di sela kunjungannya, Budi juga menyampaikan pidato kunci dalam 2026 Zhongguancun Forum. Ia menekankan pentingnya peran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia medis. Menurutnya, AI tidak akan menggantikan dokter, namun tenaga kesehatan yang tidak memanfaatkan teknologi tersebut berisiko tertinggal.
Agenda di Beijing turut dimanfaatkan untuk bertemu dengan sejumlah perusahaan China di bidang alat kesehatan, farmasi, kecerdasan buatan, dan robotika. Dari pertemuan tersebut, tercapai kesepakatan kerja sama antara perusahaan farmasi Indonesia dan perusahaan China, Sinovac, dalam pengembangan serta produksi vaksin.
Langkah ini menjadi kelanjutan dari kerja sama kesehatan yang sebelumnya telah disepakati kedua negara, termasuk dalam bidang pengobatan tradisional, penanganan TBC, serta pertukaran tenaga kesehatan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia di tengah tantangan global yang kian kompleks.














