Rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (8/10), melemah 0,16 persen atau 28 poin ke level Rp17.915 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.866 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak global. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,11 persen menjadi 102,35.
Harga minyak juga melonjak, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2026 naik 3,98 persen menjadi $91,79 per barel. Sementara minyak Brent kontrak Desember 2026 menguat 3,97 persen menjadi $104,18 per barel.
Potensi eskalasi militer AS ke Iran
Sentimen pasar turut dipengaruhi laporan mengenai potensi serangan aksi militer AS terhadap Iran.
The Atlantic melaporkan Komando Pusat AS (CENTCOM) tengah menyiapkan sejumlah opsi serangan atas permintaan pemerintah AS menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November. Namun, belum ada keputusan final dan pembahasan mengenai sasaran maupun cakupan operasi masih berlangsung.
Di pasar domestik, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah Rp10 atau 0,06 persen menjadi Rp17.890 per dolar AS dari Rp17.880 sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia turun tipis pada perdagangan sebelumnya. Selisih yield obligasi Indonesia dan AS juga semakin menyempit dan mendekati level terendah dalam catatan terakhir.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia.
Won Korea Selatan turun 0,38 persen, peso Filipina 0,20 persen, dolar Taiwan 0,17 persen, dan dolar Singapura 0,14 persen. Yen Jepang melemah 0,09 persen, baht Thailand 0,08 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, rupee India 0,02 persen, serta yuan offshore 0,01 persen.
Sebaliknya, yuan China menguat 0,05 persen dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen terhadap dolar AS.




















