Israel melancarkan serangan udara dan tembakan artileri di wilayah selatan Lebanon pada Jumat dini hari, meski perpanjangan gencatan senjata baru saja diumumkan beberapa jam sebelumnya, demikian laporan Kantor Berita Nasional Lebanon.
Jet tempur Israel dilaporkan menghantam sebuah rumah di kota Touline, Distrik Marjayoun, saat fajar, yang kemudian disusul tembakan artileri di wilayah tersebut.
Serangan udara lainnya juga menyasar kota Kherbet Selm, menurut laporan yang sama.
Di Distrik Tyre, pesawat Israel melakukan serangan di pinggiran Majdal Zoun, sementara serangan malam hari juga menghantam kawasan Rihan di wilayah Jezzine.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang tiga minggu, usai pembicaraan tingkat duta besar di Gedung Putih.
Gencatan senjata 10 hari yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 16 April sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Minggu.
Sebelumnya, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyebut gencatan senjata dengan Lebanon “belum 100 persen berjalan efektif.”
“Bandingkan dengan situasi sebelum gencatan senjata; jelas kondisinya jauh lebih baik,” ujar Danon dalam sebuah wawancara tak lama setelah pengumuman perpanjangan gencatan senjata oleh Trump.
“Saya pikir pertanyaan utamanya adalah apakah pemerintah Lebanon mampu menegakkan gencatan senjata atau kesepakatan damai, atau benar-benar menerapkan kedaulatan di Lebanon selatan.”
Sejak 2 Maret, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.200 orang dan membuat lebih dari 1 juta orang mengungsi, menurut otoritas Lebanon.









