Ditjen Migas ESDM menguji kerja sama energi dengan bahan bakar Bobibos

Pengembangan bahan bakar ini berpotensi memberi dampak luas, mulai dari pengurangan impor BBM, peningkatan kesejahteraan petani, hingga penurunan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan bakar fosil.

By
Bobibos menyatakan kesiapan bahan bakar tersebut untuk memasuki tahap pengujian lapangan. / Dok. Bobibos

Pemerintah Indonesia mulai menjajaki penggunaan bahan bakar alternatif sebagai bagian dari upaya mengantisipasi potensi krisis energi nasional. Langkah ini ditandai dengan rencana uji jalan produk BOBIBOS (Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia Bos) setelah pertemuan antara pengembang dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM di Jakarta, pada Senin (13/4).

Dalam pertemuan itu hadir sejumlah pihak, termasuk pendiri Bobibos Iklas Thamrin dan pembinanya Mulyadi, serta dipimpin oleh Dirjen Migas Laode Sulaeman. Bobibos menyatakan kesiapan bahan bakar tersebut untuk memasuki tahap pengujian lapangan. 

Bobibos dikembangkan dari bahan baku jerami, yang dinilai memiliki nilai tambah bagi sektor pertanian. Mulyadi menyebut inovasi ini dapat memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi petani.

Alternatif energi berkelanjutan

Pengembangan bahan bakar ini berpotensi memberi dampak luas, mulai dari pengurangan impor BBM, peningkatan kesejahteraan petani, hingga penurunan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan bakar fosil. 

Pengujian akan difokuskan pada kendaraan roda dua dan roda empat untuk mengevaluasi performa mesin serta efisiensi bahan bakar dalam penggunaan sehari-hari. Selain aspek teknis, pemerintah juga menekankan pentingnya pemenuhan regulasi. Bobibos diarahkan untuk segera melengkapi perizinan yang diperlukan, terutama terkait distribusi dan penjualan, dengan melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.

Pemerintah melihat tahap uji jalan ini sebagai langkah awal untuk menilai kelayakan Bobibos sebagai alternatif energi berkelanjutan yang dapat digunakan secara luas di Indonesia.