Michael Hartono, raja kretek sekaligus orang terkaya RI, tutup usia di Singapura

Pemilik Djarum sekaligus orang terkaya Indonesia, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia di Singapura pada usia 86 tahun.

By
Michael Hartono meninggal dunia di Singapura pada usia 86 tahun. / AP

Dunia bisnis dan industri Tanah Air berduka. Taipan sekaligus orang terkaya Indonesia, Michael Bambang Hartono, tutup usia pada Kamis (19/3) di sebuah rumah sakit di Singapura. Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh pihak PT Djarum dalam pernyataan resmi.

"Dengan penuh kesedihan, keluarga besar PT Djarum mengumumkan berpulangnya salah satu pimpinan perusahaan kami, Bapak Michael Bambang Hartono," demikian bunyi pernyataan pihak perusahaan. "Kami mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdiannya."

Keluarga hingga saat ini belum mengungkapkan penyebab pasti kepergian pria kelahiran Kudus, 2 Oktober 1939 tersebut. Namun, sebelumnya Michael memang pernah mengakui memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan serangan jantung.

Dari gudang kretek ke kerajaan bisnis

Michael bersama sang adik, Robert Budi Hartono, mewarisi usaha rokok keluarga di Kudus, Jawa Tengah, yang dirintis sang ayah pada 1963. Dari pabrik rokok tradisional, keduanya meracik formula baru dan membawa Djarum go internasional pada 1972, termasuk menembus pasar Amerika Serikat.

Kesuksesan Djarum Super dan Djarum Filter yang diluncurkan pada era 70-80an menjadi fondasi awal. Saat ini, pabrik yang mempekerjakan sekitar 60.000 pekerja tersebut masih memproduksi rokok yang digulung secara manual, yang sebagian besar dijual ke kalangan ekonomi menengah bawah.

Kekayaan bersaudara ini tercatat lebih dari USD43,8 miliar (sekitar Rp720 triliun), menjadikan mereka yang paling kaya di Indonesia. Menurut data Forbes per Desember 2024, Michael Hartono secara pribadi memiliki kekayaan sekitar USD25,1 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya ke-76 di dunia.

Menancapkan pengaruh di berbagai sektor

Kesuksesan Michael Hartono tidak hanya bertumpu pada asap kretek. Melalui payung usaha PT Dwimuria Investama Andalan atau Djarum Group, ia merambah perbankan, teknologi, pangan, hingga properti.

Salah satu gerakannya yang paling monumental adalah pada 2004, ketika grup ini memenangkan hak redevelopment Hotel Indonesia di bundaran HI, Jakarta. Kawasan bersejarah itu kini menjelma menjadi pusat perbelanjaan mewah, perkantoran, hotel, dan apartemen dengan nama Grand Indonesia.

Keluarga Hartono juga dikenal sebagai pemegang saham terbesar Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang tahun lalu membukukan pendapatan Rp57,5 triliun.

Cinta pada olahraga: dari bulutangkis hinga Como

Di luar bisnis, Michael Hartono dan keluarga dikenal sebagai pencinta olahraga. Djarum memiliki klub bulutangkis tersohor, PB Djarum, yang telah melahirkan banyak atlet berprestasi dunia bagi Indonesia. Grup ini juga pernah menjadi sponsor utama liga sepak bola Indonesia dari 2005 hingga 2011.

Kiprahnya di kancah olahraga internasional bahkan merambah ke Italia. Pada 2019, keluarga Hartono mengakuisisi Como 1907 yang saat itu masih terbenam di divisi empat. Enam tahun berselang, Como kini bercokol di papan atas Serie A Italia dan bahkan bersaing untuk tiket Liga Champions.

"Como 1907 sangat berduka atas kepergian Michael Bambang Hartono ," tulis pernyataan resmi klub. "Di bawah kepemimpinan keluarga, klub memasuki babak baru dalam sejarahnya, dan kami mengenangnya dengan penuh rasa terima kasih dan hormat."

Peraih medali Asian Games tertua

Selain sebagai pengusaha, Michael Hartono adalah seorang atlet bridge (sport bridge) kelas dunia. Ia menjabat sebagai Presiden South East Asia Bridge Federation. Dedikasinya membuahkan hasil ketika bridge resmi dipertandingkan di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Kala itu, Michael turun langsung sebagai atlet dan berhasil membawa pulang medali perunggu untuk tim Indonesia. Pada usianya yang kala itu 78 tahun, ia tercatat sebagai peraih medali Asian Games tertua dari Indonesia. Atas prestasinya, ia menerima hadiah dari pemerintah sekitar USD16.700, yang kemudian disumbangkannya untuk pengembangan olahraga bridge.

Michael Bambang Hartono meninggalkan seorang istri, seorang putra, serta sang adik, Robert Budi Hartono.