Penerapan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 berpotensi mengurangi volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Kebutuhan bahan baku untuk pasar domestik diperkirakan meningkat, sementara produksi juga menghadapi risiko akibat dampak El Nino berkepanjangan.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperingatkan peningkatan penggunaan CPO untuk B50 dapat mengurangi pasokan yang tersedia bagi pasar luar negeri pada semester II 2026. Namun, BPS belum menghitung besaran pasti dampaknya karena tidak melakukan proyeksi (forecasting).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut potensi tersebut muncul akibat perubahan kebutuhan CPO di dalam negeri. Sementara itu, permintaan ekspor yang masih tumbuh pada semester I 2026 diperkirakan menghadapi perlambatan.
Implementasi B50 masih berada dalam tahap peralihan. Sejumlah SPBU Pertamina masih menjual B40 untuk menghabiskan stok, sedangkan SPBU di sejumlah kota besar mulai menyediakan campuran biodiesel B50.
Tekanan ekspor
Dampak terhadap ekspor diperkirakan belum besar pada 2026 karena program baru berjalan sejak pertengahan tahun. Namun, kebutuhan CPO yang lebih tinggi untuk B50 berpotensi membuat ekspor turun sekitar 3 juta ton pada 2027.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi tantangan karena CPO merupakan salah satu sumber utama devisa. Di sisi lain, B50 dapat mengurangi kebutuhan impor solar dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Di sisi industri, meningkatnya serapan CPO untuk B50 berpotensi menopang permintaan domestik dan harga sawit. Namun, produsen juga menghadapi tantangan jika produksi tidak mampu mengejar kebutuhan dalam negeri dan ekspor secara bersamaan.
Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik dan ekspor sawit. Data BPS menunjukkan ekspor Indonesia pada Januari–Juni 2026 masih tumbuh 4,13 persen, sementara ekspor nonmigas meningkat 5,76 persen.
Perkembangan ekspor CPO, realisasi penyerapan B50, serta kebijakan pemerintah terkait kuota ekspor dan kewajiban pasar domestik menjadi indikator penting untuk melihat dampaknya terhadap industri sawit dan neraca perdagangan.





















