Indonesia dan Bulgaria memperluas hubungan ekonomi bilateral, melalui peningkatan perdagangan dan investasi. Bulgaria dinilai memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk bagi produk Indonesia menuju pasar Uni Eropa.
Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi, Investasi, dan Industri Bulgaria Alexander Poulev di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (14/9). Pertemuan berlangsung saat kedua negara memperingati 70 tahun hubungan diplomatik.
Budi menyampaikan harapan agar pertemuan bilateral tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara. “Kedua negara berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama di bidang perdagangan dan investasi. Kami berharap pertemuan hari ini dapat mendorong pertumbuhan ini,” ujar Budi dalam keterangannya.
Dalam pertemuan itu, Budi meminta dukungan Poulev untuk mempercepat penerapan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA), yang ditargetkan mulai berlaku pada awal 2027. Indonesia berharap kesepakatan tersebut segera memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.
Perluas akses pasar
Poulev menyambut upaya memperluas hubungan ekonomi dan menegaskan dukungan Bulgaria terhadap kerangka I-EU CEPA. Menurutnya, letak Bulgaria di bagian timur Uni Eropa dapat dimanfaatkan perusahaan Indonesia untuk memperluas akses ke pasar dengan populasi sekitar 450 juta jiwa.
Ia juga melihat peluang perdagangan bilateral yang masih dapat dikembangkan, khususnya pada sektor pertanian, komponen otomotif, serta daging bersertifikat halal. Untuk menjaga keberlanjutan kerja sama ekonomi, Poulev mengusulkan agar Indonesia-Bulgaria Joint Commission for Economic Cooperation (JEC) kembali diaktifkan pada paruh pertama 2027.
Nilai perdagangan Indonesia dan Bulgaria mencapai $230,8 juta pada 2025, dengan surplus sebesar $64,2 juta bagi Indonesia. Ekspor Indonesia ke Bulgaria tercatat $147,4 juta, terutama berupa bijih nikel, aluminium yang belum ditempa, produk baja, dan margarin.
Sementara itu, impor Indonesia dari Bulgaria mencapai $83,1 juta, yang antara lain mencakup gandum, instrumen medis, rempah-rempah, tembakau yang belum diproduksi, serta peralatan pertahanan.
Dalam pertemuan tersebut, Budi didampingi Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Jhoni Martha dan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi.






















