Sepuluh hari sebelum hari pernikahannya, Hala Salem Darwish tengah mempersiapkan sebuah perayaan.
Namun, ia justru harus dilarikan ke ruang perawatan intensif setelah peluru dari sniper Israel menembus rumah keluarganya dan mengenai kepalanya, mengubah hitungan mundur menuju pernikahan menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Perempuan berusia 19 tahun itu ambruk di depan keluarganya setelah peluru masuk melalui jendela sesaat sebelum matahari terbenam.
“Hanya tersisa 10 hari lagi menuju pernikahan kami,” ujar tunangannya, Mohammed Shreihi, kepada Anadolu Agency.
“Dalam satu momen, semuanya berubah.”
Peluru tersebut masih bersarang di kepalanya dan menyebabkan kerusakan parah pada jaringan otak, membuat kondisinya kritis dan tidak stabil.
Dokter sejauh ini belum dapat melakukan operasi.
Kenangan sang ayah
Ayahnya, Salem, mengatakan momen itu terus membekas di ingatannya.
“Kami sedang menyiapkan makanan ketika tiba-tiba peluru Israel masuk melalui jendela dan mengenainya,” katanya.
“Ia jatuh di depan kami. Saya tidak bisa melupakan kejadian itu.”
Pernikahan Hala sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada awal Mei.
Kasus Hala mencerminkan kondisi di Gaza, di mana sistem kesehatan berada di ambang kolaps.
Perkiraan Palestina menunjukkan sekitar 22.000 warga yang terluka dan sakit membutuhkan evakuasi keluar wilayah untuk mendapatkan perawatan.
Tunangannya pun mengajukan permohonan kepada International Committee of the Red Cross serta organisasi kemanusiaan agar segera turun tangan.
Israel disebut terus melakukan pelanggaran harian terhadap kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani Oktober lalu, dengan menewaskan 830 warga Palestina dan melukai 2.345 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Gencatan senjata tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk mengakhiri serangan Israel selama dua tahun yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.














