Suporter Afrika jadi pemenang sejati saat Mesir, Senegal, Nigeria, dan Maroko ke semifinal AFCON
Menjelang berakhirnya Piala Afrika, para penggemar dari berbagai negara di benua tersebut menunjukkan persatuan, dengan tuan rumah Maroko menjadi contoh lewat sambutan hangat dan pesan hidup berdampingan.
Sejak Piala Afrika atau AFCON digelar di Maroko, turnamen ini berkembang jauh melampaui pertandingan di dalam stadion, dengan membawa pesan cinta dan persatuan di antara para penggemar sepak bola Afrika dari berbagai penjuru benua.
Maroko pun menuai pujian luas karena dinilai sukses menjadi tuan rumah salah satu edisi AFCON terbaik yang pernah digelar di Afrika.
Di atas lapangan, 24 tim bersaing dalam turnamen dua tahunan tersebut. Sementara di luar stadion, berbagai fan zone di sejumlah kota Maroko menghidupkan suasana turnamen lewat nonton bareng, pertunjukan musik, serta beragam kegiatan dan perayaan.
Keamanan menjadi perhatian utama di dalam stadion, tempat para suporter memberikan dukungan penuh kepada tim masing-masing, bahkan tak jarang turut menyemangati negara lain.
Menjelang babak 16 besar, para pemain dari tiga negara—Tunisia, Mali, dan Burkina Faso—mengunjungi sebuah masjid di Casablanca untuk menunaikan salat Jumat bersama.
Imam masjid tersebut disebut menyampaikan khutbah tentang pentingnya hidup berdampingan serta mengecam rasisme.
Momen tersebut kemudian dibagikan oleh tim nasional Tunisia melalui akun X mereka sebagai bentuk pesan persatuan.
“Tim nasional Tunisia, Mali, dan Burkina Faso menunaikan Salat Jumat bersama di Masjid Hassan II di Casablanca hari ini,” tulis Noussour di X. Noussour berarti “Elang” dalam bahasa Arab, julukan bagi tim nasional Tunisia.
Selama bertahun-tahun, trofi Man of the Match nyaris tidak mengalami perubahan. Namun, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) bersama sponsor utama TotalEnergies kini merancang ulang trofi tersebut.
Penyelenggara menyebut trofi baru itu “dirancang untuk melambangkan persatuan, keberagaman, dan meningkatnya posisi sepak bola Afrika di panggung global”, dengan 24 sinar cahaya yang masing-masing mewakili satu dari 24 negara peserta putaran final.
Bahkan logo AFCON yang terinspirasi dari motif “zellij” khas Maroko—simbol modern dan ikonik sepak bola Afrika—ikut merayakan warisan budaya dan persatuan benua Afrika.
Kehangatan Maroko menyambut tamu
Sepanjang turnamen, para pendukung tuan rumah Maroko menunjukkan sikap ramah dan penuh persatuan kepada seluruh suporter.
YouTuber asal Mesir, Marwan Serry, yang mendokumentasikan perjalanannya ke Agadir, mengaku terkejut melihat suporter Maroko datang ke laga-laga Mesir di fase grup dan memberikan dukungan langsung kepada tim tersebut.
Dalam pemandangan lain, suporter Maroko tampak berdiri berdampingan dengan pendukung Burkina Faso di tribun yang sama, sambil mengibarkan kedua bendera dan menari bersama.
Pelatih timnas Tunisia, Sami Trabelsi, turut memberikan apresiasi kepada Maroko atas keramahan dan sambutan hangat yang diberikan selama turnamen.
Komentator kenamaan dunia Arab, Issam Chaouali, bahkan menyebut penyelenggaraan AFCON kali ini setara dengan “level Piala Dunia”.
Biasanya, suporter datang langsung ke stadion untuk menonton pertandingan. Namun kali ini, Maroko juga menyediakan fan zone yang memungkinkan penggemar menyaksikan laga secara bersama-sama.
Namun, fasilitas tersebut bukan sekadar tempat menonton.
Fan zone menjadi ruang pertemuan bagi suporter dari seluruh Afrika untuk berbagi tradisi, pengalaman, serta menjalin koneksi dengan kekayaan budaya benua tersebut.
Area ini juga memberi kesempatan bagi pendukung untuk menghidupkan atmosfer turnamen di ruang publik, menikmati musik dan tarian lokal, serta mengikuti berbagai aktivitas sepak bola.
“AFCON berbeda karena Afrika itu berbeda. Ini adalah perayaan bakat, kebanggaan, dan identitas, tempat budaya dan sepak bola berpadu dalam warna yang penuh,” demikian pernyataan CAF.
Fokus ke laga semifinal
Dengan turnamen yang berhasil menyatukan Afrika, perhatian kini tertuju pada laga semifinal yang akan digelar pada 14 Januari, mempertemukan Mesir melawan Senegal, serta Nigeria menghadapi tuan rumah Maroko.
Mesir masih menjadi tim tersukses dengan koleksi tujuh gelar AFCON, sementara Nigeria telah meraih tiga gelar, terakhir pada 2013.
Senegal dan Maroko masing-masing baru mengoleksi satu gelar. Senegal, yang dijuluki Lions of Teranga, meraih trofi pada 2021, sementara Maroko atau Lions of Atlas mencatatkan gelar mereka pada 1976.