Fenomena El Nino yang tengah berkembang diperkirakan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan modern, memicu kekhawatiran akan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia.
Peringatan ini disampaikan oleh pakar El Nino dari Pusat Eropa untuk Prakiraan Cuaca Jangka Menengah (ECMWF), Tim Stockdale, pada Selasa (7/7), Berdasarkan hasil pemodelan terbaru, ia menilai intensitas El Nino saat ini berada dalam kategori ekstrem dan menunjukkan konsistensi yang jarang terlihat.
“Saya belum pernah melihat prakiraan El Nino yang sekuat dan sekonsisten ini di berbagai model cuaca selama lebih dari 30 tahun,” ujar Stockdale dikutip oleh RRI yang mengutip laporan Arab News. Ia menambahkan bahwa peluang fenomena kali ini untuk memecahkan rekor sebelumnya dinilai sangat besar.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proyeksi tersebut masih memiliki ketidakpastian hingga perkembangan aktualnya terkonfirmasi. El Nino sendiri terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik ekuator mengalami peningkatan, yang kemudian mengganggu pola angin, tekanan udara, serta distribusi curah hujan secara global.
Fenomena ini biasanya muncul setiap dua hingga tujuh tahun dengan durasi sekitar sembilan hingga dua belas bulan. Namun, dalam konteks perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia, dampak yang ditimbulkan dapat menjadi lebih luas dan intens.
Stockdale mencatat bahwa El Nino sebelumnya berkontribusi terhadap lonjakan suhu global, menjadikan tahun 2023 sebagai salah satu tahun terpanas kedua dalam sejarah, sementara 2024 mencatat rekor baru sebagai tahun terpanas. Kondisi ini memperbesar risiko kekeringan di sejumlah wilayah, sementara kawasan lain menghadapi ancaman banjir.
Para ilmuwan saat ini terus memantau dinamika El Nino guna memperbarui proyeksi dampaknya. Seiring dengan itu, pemerintah dan masyarakat di berbagai negara didorong untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gangguan cuaca yang semakin ekstrem.
















