Indonesia modernisasi armada C-130 Hercules senilai Rp2,55 triliun
Indonesia mulai modernisasi sembilan pesawat C-130 Hercules senilai Rp2,55 triliun untuk perpanjang masa pakai 15 tahun, dukung operasi kemanusiaan dan bencana.
Kementerian Pertahanan Indonesia meluncurkan program modernisasi sembilan pesawat angkut C-130 Hercules yang digarap PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan nilai kontrak mencapai Rp2,55 triliun, kata pihak kementerian, Rabu.
Kolonel Arif Djoko, Kepala Satuan Tugas Modernisasi C-130, menjelaskan setiap pesawat akan menjalani penggantian center wing box (CWBR) dan peningkatan sistem avionik dari analog ke digital melalui Avionics Upgrade Program (AUP). Proses ini diperkirakan berlangsung enam hingga tujuh bulan per unit.
“Setelah perbaikan dan upgrade ini, setiap pesawat diproyeksikan mampu menambah masa pakai hingga 15 tahun atau sekitar 25.000 jam terbang,” ujar Arif kepada wartawan di fasilitas PTDI Bandung.
Kesembilan pesawat Hercules ini merupakan tipe H yang dibeli antara 1980–1982, sehingga berusia lebih dari 40 tahun dan membutuhkan peremajaan struktural serta elektronik. Modernisasi ini termasuk penggantian komponen CWBR yang telah mencapai batas 45.000 jam terbang.
Program ini diharapkan memperkuat kemandirian Indonesia dalam pemeliharaan dan modernisasi kemampuan angkut strategis, vital untuk pertahanan, dukungan logistik, serta respons cepat bencana. Arif menekankan, pesawat yang dimodernisasi juga dapat mendukung operasi kemanusiaan internasional, termasuk pengiriman bantuan ke Gaza.
PTDI menilai proyek ini sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi teknis, memperluas kapasitas produksi komponen, dan memperkuat ekosistem industri dirgantara pertahanan nasional. “Bagi PTDI, inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk membangun kompetensi teknis, memperluas kemampuan produksi, dan memperkuat industri dirgantara nasional,” kata Direktur Perdagangan, Teknologi, dan Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal.
Melalui modernisasi domestik, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan fasilitas luar negeri, mempercepat overhaul, dan menjaga kesiapan misi Angkatan Udara Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.