Pasar batu bara global menghadapi tekanan pasokan setelah kecelakaan tambang di China dan perubahan kebijakan ekspor batu bara Indonesia memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan komoditas tersebut di pasar internasional.
Laporan Reuters menyebutkan ledakan tambang di Provinsi Shanxi, China, yang menewaskan sejumlah pekerja mendorong pemerintah setempat melakukan inspeksi keselamatan secara menyeluruh. Langkah itu berdampak pada berkurangnya produksi batu bara domestik di negara tersebut.
Pada saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati rencana Indonesia menata pengelolaan ekspor batu bara secara lebih terintegrasi melalui Danantara. Kebijakan tersebut dinilai menambah ketidakpastian terhadap pasokan batu bara global.
Menurut DBX Commodities, China diperkirakan meningkatkan impor batu bara termal menjadi 27,8 juta ton pada Juni 2026 atau naik 27,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terjadi setelah permintaan batu bara China cenderung melemah pada beberapa bulan pertama tahun ini.
Ekspor batu bara diproyeksikan turun
Peningkatan impor diperkirakan didorong kebutuhan listrik yang lebih tinggi selama musim panas, sementara pasokan domestik menghadapi tekanan akibat inspeksi keselamatan yang lebih ketat di sektor pertambangan.
Dari Indonesia, tekanan pasokan juga muncul setelah produksi batu bara termal selama empat bulan pertama 2026 tercatat turun sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut disampaikan Direktur Eksekutif McCloskey, Scott Dendy.
Jika tren itu berlanjut hingga akhir tahun, ekspor batu bara Indonesia diproyeksikan turun sekitar 11 persen menjadi 446 juta ton, mengurangi pasokan dari salah satu eksportir terbesar dunia.
Penurunan produksi terjadi ketika sejumlah negara Asia Tenggara justru meningkatkan konsumsi batu bara. Vietnam dan Filipina mencatat kenaikan penggunaan untuk memenuhi kebutuhan listrik di tengah cuaca yang lebih panas.
Pasar juga masih memperhitungkan dampak ketegangan di Timur Tengah. Gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz sebelumnya mendorong Jepang dan Korea Selatan meningkatkan pembelian batu bara berkualitas tinggi sebagai alternatif pasokan energi, yang sempat mengangkat harga batu bara acuan Newcastle hingga menembus $150 per ton, level tertinggi dalam hampir dua tahun.

















