DUNIA
3 menit membaca
Asap kebakaran hutan selimuti Toronto, kualitas udara lebih buruk dari New Delhi dan Kinshasa
Asap kebakaran hutan membuat kualitas udara Toronto menjadi yang terburuk di dunia. Kanada mencatat 835 kebakaran hutan aktif, dengan 112 di antaranya masih belum terkendali, sementara dampaknya meluas hingga ke negara bagian New York, AS.
Asap kebakaran hutan selimuti Toronto, kualitas udara lebih buruk dari New Delhi dan Kinshasa
Warga berjalan di pusat Toronto saat asap kebakaran hutan menyelimuti kota, 15 Juli 2026. / AFP

Kualitas udara di Toronto tercatat sebagai yang terburuk di antara kota-kota besar dunia setelah asap kebakaran hutan dari Ontario barat laut menyelimuti langit kota dan menyebar hingga ke wilayah timur laut Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong otoritas mengeluarkan peringatan kesehatan serta mengimbau warga membatasi aktivitas di luar ruangan.

Badan Lingkungan Kanada (Environment Canada) pada Rabu melaporkan Indeks Kesehatan Kualitas Udara (Air Quality Health Index/AQHI) Toronto mencapai 10+, yang dikategorikan sebagai "risiko sangat tinggi". Prakiraan menunjukkan kondisi berbahaya tersebut diperkirakan bertahan hingga Kamis malam.

Kota New York mulai merasakan dampak asap tersebut beberapa hari sebelum negara bagian New Jersey menjadi tuan rumah final Piala Dunia pada Minggu.

Otoritas setempat mengeluarkan peringatan setelah kualitas udara mencapai tingkat yang tidak sehat dan meminta warga mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan serta lebih sering beristirahat jika harus berada di luar pada Rabu dan Kamis.

Badan Cuaca Nasional AS (National Weather Service) memperkirakan asap dapat bertahan hingga akhir pekan.

Perusahaan teknologi pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, menempatkan Toronto sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, melampaui Kinshasa dan New Delhi. Sementara itu, New York berada di peringkat kelima.

Asap kebakaran hutan dari Kanada bagian utara telah menjadi fenomena yang semakin sering terjadi pada musim panas dan memengaruhi wilayah luas di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kereta milik Canadian National dikelilingi kobaran api di dekat Armstrong, Ontario, dan dengan cepat menjadi viral.

Dalam pernyataannya, Canadian National mengatakan para pekerja perusahaan dan warga Armstrong telah dievakuasi sejak Senin malam. Operasional kereta di sekitar Armstrong, yang berjarak lebih dari 500 kilometer di utara Toronto, juga dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan akibat kebakaran hutan.

Pemerintah Kota Toronto turut membatalkan FIFA Fan Festival serta acara nonton bareng semifinal Piala Dunia Inggris versus Argentina di Nathan Phillips Square karena buruknya kualitas udara.

Dampak meluas hingga Amerika Serikat

Di kawasan New York, lebih dari 80.000 orang diperkirakan menghadiri final Piala Dunia di stadion terbuka di New Jersey pada Minggu. Sementara sekitar 50.000 lainnya berencana menyaksikan pertandingan melalui acara nonton bersama di Central Park, Manhattan, yang juga tampak diselimuti kabut asap.

Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul mengatakan melalui media sosial bahwa asap dan kabut akibat kebakaran hutan di Kanada telah menciptakan kondisi udara yang tidak sehat di seluruh wilayah negara bagian. Ia mengimbau masyarakat, terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan, agar meningkatkan kewaspadaan.

Pemerintah Kanada menyatakan musim kebakaran hutan pada 2026 dimulai lebih lambat dibandingkan 2023 dan 2025, dua musim kebakaran terparah dalam sejarah terbaru. Namun, pemerintah memperingatkan risiko kebakaran tetap tinggi karena suhu yang lebih hangat dari biasanya di berbagai wilayah negara tersebut.

Hingga Rabu, Kanada mencatat 835 kebakaran hutan aktif, dengan 112 di antaranya masih belum terkendali. Sekitar 4,7 juta acre lahan telah terbakar, dengan sebagian besar titik api berada di provinsi Manitoba, Saskatchewan, dan Ontario.

Profesor Teknik Kimia dan Kimia Terapan Universitas Toronto, Greg Evans, mengatakan Toronto kini menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni gelombang panas ekstrem dan asap kebakaran hutan.

"Saya memperkirakan kondisi seperti ini akan semakin sering terjadi dalam beberapa dekade mendatang. Karena itu, kota-kota dan masyarakat perlu mempersiapkan diri menghadapi situasi ini di masa depan," ujarnya.

Warga Toronto, Paula Oreskovich, mengatakan ia langsung melihat kabut asap dan mencium bau asap saat keluar rumah pada pagi hari.

Menurutnya, memburuknya kualitas udara menjadi hal yang mengkhawatirkan karena asap kebakaran hutan kini semakin sering muncul setiap musim panas.

"Menurut saya, kita akan bodoh jika tidak mengkhawatirkan perubahan iklim. Dampaknya sudah nyata, sedang terjadi, dan dirasakan di seluruh dunia," kata Oreskovich.

SUMBER:TRT World & Agencies