Jerman melihat peluang besar untuk memperluas hubungan ekonomi dengan Indonesia di tengah perubahan geopolitik yang mendorong negara-negara kekuatan menengah menyesuaikan diri dengan dinamika strategis global.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste Ralf Beste mengatakan posisi Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara sekaligus lokasi Sekretariat ASEAN menjadikannya mitra penting bagi Berlin.
“Kami juga melihat dari perspektif Jerman bahwa perdagangan kami dengan negara-negara ASEAN lainnya lebih besar. Karena itu, kami melihat banyak peluang, dan mungkin potensi terbesar bagi Jerman adalah memperluas kerja sama, terutama di bidang ekonomi, dengan Indonesia,” kata Beste di Jakarta, Senin (14/9).
Menurut Beste, ASEAN secara keseluruhan merupakan salah satu mitra dagang utama Uni Eropa di luar Eropa. Selain kepentingan ekonomi, hubungan keamanan antara kawasan Indo-Pasifik dan Eropa juga semakin saling berkaitan sehingga perkembangan Asia Tenggara menjadi perhatian strategis Jerman.
Dalam sektor perdagangan, Uni Eropa tengah mempercepat sejumlah kesepakatan bilateral dengan negara-negara ASEAN, termasuk menyelesaikan proses ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Beste menilai kesepakatan perdagangan bebas antara Uni Eropa dan ASEAN secara menyeluruh masih membutuhkan waktu karena saat ini blok tersebut lebih memprioritaskan perjanjian dengan masing-masing negara anggota ASEAN.
Pemerintah Indonesia menargetkan penandatanganan IEU-CEPA pada Oktober 2026. Setelah proses ratifikasi, kesepakatan tersebut akan dibawa ke parlemen masing-masing pihak dan ditargetkan mulai berlaku pada awal 2027.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan IEU-CEPA dapat menjadi pengubah besar bagi Indonesia dengan membuka akses pasar yang lebih luas bagi kedua pihak. Pemerintah juga akan menerbitkan peraturan presiden untuk mendorong pembahasan kesepakatan tersebut sebagai prioritas di parlemen Indonesia.























