IHSG anjlok lebih dari 4 persen dipicu lonjakan harga minyak global

Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu aksi jual di pasar saham global, termasuk Indonesia.

By
FOTO ARSIP: Bursa Efek Indonesia (IDX) di Jakarta. / Reuters

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3) pagi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian global.

Hingga pukul 10.17 WIB, IHSG tercatat turun 307,52 poin atau 4,05 persen ke level 7.278,16. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya sikap risk off di kalangan investor global setelah harga minyak melonjak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Lonjakan harga minyak picu kekhawatiran global

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG saat ini masih dibayangi sentimen negatif dari konflik tersebut.

Menurut dia, meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

“Pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen negatif dari perang AS dengan Iran yang mendorong investor global mengurangi risk appetite dan beralih ke aset safe haven,” ujar Nafan kepada Antara di Jakarta, Senin.

Pada Senin pagi, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak 24,51 persen menjadi 113,18 dolar AS per barel, sementara minyak Brent naik 23,06 persen ke level 114,06 dolar AS per barel.

Kenaikan tajam harga minyak dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini berpotensi membuat suku bunga di berbagai negara bertahan pada level tinggi lebih lama, sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan biaya energi dan produksi.

Sentimen domestik ikut menekan pasar

Selain faktor eksternal, pasar juga merespons perkembangan dari dalam negeri. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari “stable” menjadi “negative”, yang memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas makroekonomi pemerintah.

Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama yang memiliki fundamental kuat dan valuasi relatif murah, serta tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

“Fokus pada saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, serta yang mulai menunjukkan potensi pembalikan tren, dengan tetap menjaga disiplin dalam manajemen risiko,” ujarnya.

Bursa Asia ikut terkoreksi

Pelemahan juga terjadi di sejumlah bursa saham utama di kawasan Asia pada periode yang sama.

Indeks Nikkei Jepang turun 3.880,30 poin atau 6,98 persen ke 51.740,00, indeks Shanghai melemah 48,18 poin atau 1,17 persen menjadi 4.076,35, indeks Hang Seng Hong Kong turun 680,15 poin atau 2,64 persen ke 25.077,98, sementara indeks Straits Times Singapura terkoreksi 129,75 poin atau 2,68 persen ke 4.718,98.

Pelemahan serentak di pasar saham Asia mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik geopolitik terhadap stabilitas ekonomi global dan pasar keuangan.