UNRWA terpaksa pangkas layanan hingga 20 persen akibat krisis dana yang parah

Didanai melalui kontribusi sukarela dari negara anggota PBB, UNRWA menjadi lembaga utama yang menyediakan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina sejak 1950, dengan menyalurkan pangan, layanan kesehatan, pendidikan dan tempat tinggal.

By
Keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi mencari perlindungan di sekolah-sekolah UNRWA di Gaza, 25 Januari 2026. / AA

Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) terpaksa memangkas layanannya sebesar 20 persen akibat kekurangan dana yang parah. Kepala lembaga tersebut mendesak negara-negara donor untuk mengubah dukungan politik mereka menjadi kontribusi finansial yang nyata.

Berbicara kepada Anadolu pada hari Rabu, Komisaris Jenderal Philippe Lazzarini menekankan bahwa badan tersebut tengah menghadapi krisis keuangan besar. "Lembaga ini sekarang mengalami defisit anggaran yang sangat besar untuk mempertahankan seluruh layanannya di kawasan, yakni lebih dari 200 juta dolar AS," ujarnya sembari menambahkan bahwa lembaga tersebut bahkan tidak lagi mampu menutupi biaya audit.

"Terlepas dari sejumlah langkah penghematan yang telah kami ambil pada tahun 2025, saya harus mengambil keputusan tambahan untuk mengurangi volume layanan kami sebesar 20 persen. Ini berarti, misalnya, sekolah yang biasanya lima hari menjadi empat hari, dan klinik kesehatan yang biasanya buka 40 jam seminggu kini hanya akan beroperasi selama 32 jam," jelas Lazzarini.

Perjuangan harian untuk bertahan hidup berlanjut di Gaza

Membahas situasi di Gaza, Lazzarini menggarisbawahi bahwa hanya 50 orang yang diizinkan melewati penyeberangan perbatasan Rafah yang dibuka kembali di bawah pembatasan ketat Israel. "Mari kita perjelas, penyeberangan Rafah baru saja dibuka. Saat ini hanya 50 orang yang diizinkan melintas, dan itu pun hanya untuk pejalan kaki. Jadi, ini bukan jalur pasokan baru ke Gaza," tegasnya.

Ia mencatat bahwa warga di Gaza terus menderita dan tetap menjadi korban jiwa di bawah perjanjian gencatan senjata dengan Israel yang dianggap "hanya formalitas belaka", yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. "Mereka terus berjuang untuk kebutuhan dasar. Mereka tidak punya tempat tinggal. Musim dingin sangat menyiksa. Kondisi kesehatan sangat buruk. Jadi, ini adalah perjuangan harian untuk bertahan hidup yang masih berlangsung di Gaza," pungkasnya.

Kinerja UNRWA dan serangan Israel

Didanai melalui kontribusi sukarela dari negara-negara anggota PBB, UNRWA telah menjadi lembaga utama yang memberikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina sejak beroperasi tahun 1950, menyediakan makanan, layanan kesehatan, pendidikan, dan tempat berteduh.

Lembaga ini menyokong 5,9 juta pengungsi Palestina. Selama lebih dari 75 tahun berkarya, fasilitas UNRWA telah berulang kali menjadi sasaran serangan Israel, yang mengakibatkan hancurnya berton-ton bahan makanan dan obat-obatan.

Pada Oktober 2024, parlemen Israel melarang aktivitas lembaga tersebut di Israel dan Yerusalem Timur yang diduduki, dengan dalih tuduhan bahwa beberapa karyawan lembaga terlibat dalam peristiwa 7 Oktober 2023. Penghentian operasional UNRWA ini berdampak buruk pada kehidupan sekitar 2,5 juta pengungsi di wilayah Palestina.

Selama periode ini, beberapa negara donor menangguhkan dukungan finansial mereka kepada UNRWA, yang menjerumuskan lembaga yang sangat bergantung pada sumbangan sukarela ini ke dalam krisis keuangan yang mendalam. Pada 20 Januari, pasukan Israel menggerebek markas besar UNRWA di Yerusalem Timur yang diduduki, menyita kompleks tersebut, dan menghancurkan fasilitas di dalamnya.