Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu (1/7). Mata uang Garuda turun 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.944 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.907 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.
Menurutnya, investor asing membukukan net sell sebesar 58,20 juta dolar AS yang turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Selain faktor arus modal, pelaku pasar juga masih mencermati sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026, yang diperkirakan akan menjadi acuan baru bagi pergerakan pasar keuangan domestik.
Di sisi eksternal, perhatian investor masih tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) serta perkembangan data ekonomi AS yang dapat memengaruhi penguatan dolar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Josua memperkirakan nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini dengan kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati hingga terdapat kejelasan mengenai sentimen ekonomi global maupun domestik.
















