Indonesia memperluas upaya diplomatik untuk mengamankan pasokan minyak, termasuk melalui lobi ke sejumlah negara Afrika, di tengah meningkatnya konflik Timur Tengah yang berisiko mengganggu distribusi energi global.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, serta kelompok Houthi dan Arab Saudi semakin menekan jalur logistik dan ketahanan energi dunia.
“Ini akan semakin memperparah arus logistik dan ketahanan energi dunia,” kata Bahlil dalam rapat kerja nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) di Jakarta, Senin (12/10).
Ia mengakui belum ada kepastian mengenai kapan ketegangan geopolitik tersebut akan mereda. Karena itu, pemerintah berupaya memperoleh minyak dari berbagai sumber untuk menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Bahlil menegaskan, Indonesia terbuka membeli minyak dari negara mana pun selama transaksi tersebut efisien, menguntungkan kepentingan nasional, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Selama itu efisien untuk kebaikan negara dan tidak melanggar aturan, maka itu akan menjadi prioritas negara,” ujarnya.
Risiko terhadap distribusi energi meningkat seiring pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Arab Saudi, terutama di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis bagi pelayaran internasional dan perdagangan energi.
Arab Saudi telah melancarkan serangkaian serangan terhadap kelompok Houthi untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman. Sebaliknya, serangan Houthi ke Arab Saudi turut menimbulkan korban jiwa.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10) awalnya dilaporkan menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, sebelum jumlah korban tewas meningkat menjadi 13 orang. Serangan lain pada Minggu (11/10) menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.
















