Upaya ganti rezim di Iran bisa picu ‘skenario jauh lebih berbahaya’ di kawasan: Fidan Menlu Türkiye
Türkiye memperingatkan bahwa ambisi politik Amerika Serikat dan Israel yang lebih luas di Iran berisiko memperparah krisis dan menyeret negara-negara Teluk, Türkiye, serta Eropa ke dalam instabilitas yang lebih dalam.
Menteri Luar Negeri Türkiye Hakan Fidan mengatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya membatasi kampanyenya terhadap Iran hanya pada upaya melumpuhkan kemampuan militernya, seraya memperingatkan bahwa langkah menuju perubahan rezim akan menimbulkan risiko serius bagi kawasan yang lebih luas.
Berbicara kepada TRT Haber pada Selasa, Fidan menyebut ada dua opsi utama yang akan menentukan arah perang.
“Yang pertama adalah penilaian militer profesional yang berfokus pada penghapusan kemampuan militer Iran, dengan pandangan bahwa operasi akan terus berlanjut hingga tujuan itu tercapai,” ujarnya. “Yang kedua adalah perspektif yang menginginkan perubahan rezim melalui cara-cara militer.”
“Bergeser ke opsi kedua—perubahan rezim—berarti membuka berbagai skenario dan risiko yang sangat berbeda bagi kawasan,” katanya.
Fidan mengingatkan bahwa durasi, cakupan, serta dampak lanjutan dari konflik akan sangat bergantung pada tujuan mana yang diutamakan.
Ia menambahkan bahwa Ankara berharap Washington tetap berfokus pada target militer awal dan tidak memperluas kampanye menjadi agenda politik yang lebih besar untuk transformasi pemerintahan.
Pada saat yang sama, ia menilai masih ada ruang bagi jalur diplomasi.
“Mungkin saja perundingan dapat dihidupkan kembali dari titik ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kepemimpinan baru di Teheran bisa mengambil sikap yang lebih fleksibel. “Saya percaya kepemimpinan baru dapat menjadi peluang untuk menghentikan perang.”
Kekhawatiran efek limpahan kawasan
Fidan juga memperingatkan bahwa strategi Iran dalam konflik yang sedang berlangsung berisiko menyeret kawasan yang lebih luas ke dalam perang, sembari menuding Teheran menjadikan infrastruktur energi Teluk sebagai alat tekanan.
Ia mengatakan Timur Tengah sedang melewati “hari-hari yang sangat kritis”, dan menegaskan bahwa dampak konflik melampaui batas-batas Iran.
“Dampak perang ini tidak terbatas pada Iran. Seperti yang telah kami perkirakan, dampaknya menyebar ke seluruh kawasan,” ujarnya.
Fidan berpendapat bahwa Teheran tampaknya mengadopsi doktrin eskalasi dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial.
“Kami melihat strategi ‘jika saya jatuh, saya akan menyeret kawasan bersama saya’,” kata Fidan, merujuk pada serangan terhadap infrastruktur energi di sejumlah negara Teluk.
Ia menambahkan bahwa banyak negara Teluk telah bekerja keras untuk mencegah pecahnya perang, bahkan satu jam sebelum serangan dimulai, perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Qatar masih berupaya menghentikan konflik.
Terlepas dari upaya tersebut, Fidan menyebut keputusan Iran menyerang negara-negara seperti Oman, Qatar, Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, United Arab Emirates, dan Jordan sebagai “strategi yang sangat keliru”, terutama karena beberapa di antaranya memilih bersikap netral dan tidak membuka wilayah udara atau pangkalan mereka bagi pihak penyerang.
Seruan diplomasi terkoordinasi
Fidan mengatakan bahwa para aktor regional dan internasional terus melakukan konsultasi intensif dan kerap meminta pandangan Türkiye mengenai langkah selanjutnya.
“Posisi kami jelas,” ujarnya. “Kita harus melakukan segala upaya untuk mencegah kawasan ini semakin terpuruk akibat perang.”
Ia menekankan bahwa pesan yang jelas harus disampaikan kepada Washington.
“Pada titik ini, aktor yang bisa menghentikan Israel adalah Amerika Serikat,” kata Fidan, seraya menambahkan bahwa negara-negara Teluk, Türkiye, dan negara-negara Eropa akan menjadi pihak yang paling terdampak jika eskalasi terus berlanjut.
Menurut Fidan, negara-negara tersebut tengah terlibat dalam konsultasi yang intensif, dan Türkiye berada di pusat lalu lintas diplomasi itu.
“Pertukaran pandangan terus berlangsung di antara negara-negara ini, dan kami berada tepat di jantung diskusi tersebut,” ujarnya, menegaskan upaya Ankara untuk mengoordinasikan pendekatan kolektif guna membendung konflik.
‘Israel memberi tekanan besar’
Fidan menyatakan bahwa jika perundingan memang hendak dinyatakan gagal, seharusnya Amerika Serikat yang secara resmi menutupnya, bukan membiarkan situasi beralih ke aksi militer.
Ia juga menyinggung tekanan waktu yang dihadapi Washington akibat pengerahan militer serta apa yang ia gambarkan sebagai “tekanan luar biasa” dari Israel.
“Saya percaya bahwa jika pihak Iran lebih cermat membaca tekanan keputusan yang dihadapi Presiden Trump dan menawarkan sesuatu lebih awal di meja perundingan, tekanan Israel mungkin tidak akan seefektif itu,” ujarnya.
Diplomasi intensif untuk mencegah perang
Menteri luar negeri itu juga mengungkap detail diplomasi intensif yang berlangsung pada Januari, saat menurutnya perang sudah di ambang pintu.
Ia menggambarkan percakapan telepon pada 27 Januari antara Presiden Türkiye Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump sebagai momen “bersejarah”, terjadi ketika Washington hampir mengambil keputusan terkait aksi militer.
Tiga hari kemudian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diundang ke Istanbul, di mana Türkiye mengusulkan kerangka baru untuk perundingan.
Menurut Fidan, Washington saat itu ingin menekan empat isu besar sekaligus dalam negosiasi dengan Teheran. Ankara mengusulkan agar agenda tersebut dibagi, dengan dua isu dibahas langsung antara AS dan Iran, sementara dua lainnya didiskusikan bersama negara-negara kawasan.
Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat merespons positif proposal tersebut dan menyatakan kesiapan untuk melangkah maju. Namun Iran, setelah melakukan konsultasi internal, kembali pada posisi sebelumnya.
Fidan mengindikasikan bahwa dorongan diplomatik itu sempat menunda potensi pecahnya perang selama beberapa pekan. Perundingan berlanjut di Oman dan kemudian di Jenewa pada akhir Februari, namun pada 28 Februari konflik akhirnya pecah.
Pada Sabtu, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan 786 orang lainnya, termasuk banyak siswi sekolah.
Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi-lokasi yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk, menyebabkan sejumlah korban jiwa. Enam personel militer AS dilaporkan tewas dan banyak lainnya mengalami luka-luka.