Rupiah melemah, Bank Indonesia perkuat intervensi untuk jaga stabilitas
Otoritas moneter berupaya meningkatkan aliran modal masuk dengan memperkuat daya tarik instrumen berbasis rupiah, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil kompetitif.
Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah setelah mata uang tersebut tertekan hingga mendekati level terendah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah gejolak global.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama otoritas moneter saat ini. “Menjaga stabilitas rupiah tentu menjadi prioritas utama kami. Kami akan menggunakan seluruh instrumen dan kebijakan yang tersedia secara maksimal,” ujarnya kepada Reuters.
Data pasar menunjukkan rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp17.090 per dolar AS pada Selasa pagi. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (6/4), kurs berada di level Rp17.035 atau terdepresiasi 0,32 persen. Sepanjang Maret, mata uang ini juga sempat menyentuh titik lemah di kisaran Rp17.041 per dolar AS.
Untuk meredam volatilitas, BI melakukan intervensi di berbagai instrumen, mulai dari pasar spot hingga domestic non-deliverable forward (DNDF). Bank sentral juga menyatakan kesiapan untuk membeli surat berharga negara di pasar sekunder jika diperlukan.
“Intervensi dilakukan di pasar spot dan DNDF, serta kami siap masuk ke pasar obligasi pemerintah bila dibutuhkan,” kata Destry.
Selain itu, otoritas moneter berupaya meningkatkan aliran modal masuk dengan memperkuat daya tarik instrumen berbasis rupiah, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menawarkan imbal hasil kompetitif.
Dari sisi domestik, analis melihat strategi intervensi ganda menjadi langkah penting dalam jangka pendek untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing. Di bidang kebijakan moneter, BI diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen.
Di tengah ketidakpastian global, termasuk lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, rupiah masih menghadapi tekanan seiring arus keluar modal asing dan meningkatnya aversi risiko di pasar negara berkembang.