Indonesia menyerukan peran lebih besar kawasan Asia-Pasifik dalam membentuk arah pembangunan global, seiring dorongan untuk memastikan keberlanjutan agenda pembangunan setelah 2030.
Seruan ini disampaikan dalam Sidang Komisi ke-82 Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UNESCAP) yang berlangsung di Bangkok pada 20–24 April 2026.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Thailand dan UNESCAP, Hari Prabowo, yang memimpin delegasi Indonesia, menekankan bahwa negara-negara di kawasan perlu tidak hanya menjaga momentum pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tetapi juga mulai merancang kerangka pembangunan global berikutnya.
“Sudah saatnya kita memikirkan dan merumuskan keberlanjutan agenda pembangunan setelah 2030 agar tetap relevan, inklusif, dan mampu menjawab tantangan global yang terus berkembang,” ujarnya dalam sesi pembukaan dikutip dari keterangan resmi pemerintah.
‘Leaving no one behind’
Asia-Pasifik selama ini dikenal sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi dunia, meski memiliki tingkat pembangunan yang beragam antar negara.
Dengan posisi tersebut, kawasan ini dinilai perlu bertransformasi menjadi “kompas” yang memandu arah kebijakan pembangunan global ke depan.
Ia juga menegaskan bahwa prinsip leaving no one behind harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pembangunan. “Ini harus terwujud tidak hanya dalam bentuk komitmen, tetapi harus tercermin pula dalam kebijakan yang inklusif dan berdampak nyata bagi seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Dalam konteks tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia turut menyoroti pentingnya memperkuat kemitraan lintas generasi dan lintas negara. Hari menyebut solidaritas global menjadi kunci agar proses pembangunan dapat menjangkau seluruh kelompok masyarakat tanpa terkecuali.
“Kita perlu memperkuat semangat solidarity across ages and across borders untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” tambahnya.
Sidang Komisi UNESCAP sendiri merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi di kawasan Asia-Pasifik di bawah naungan PBB.
Tahun ini, pertemuan mengusung tema “Leaving no one behind: advancing a society for all ages in Asia and the Pacific,” yang menyoroti pentingnya pembangunan inklusif bagi semua kelompok usia.
Lebih dari 477 peserta dari 58 negara anggota menghadiri forum tersebut, yang diselenggarakan bersama oleh UNESCAP, Azerbaijan, dan Thailand. Pertemuan ini menjadi wadah bagi negara-negara anggota untuk memperkuat kerja sama regional di tengah dinamika global yang terus berubah.












