BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
BPDP Kemenkeu sebut 80 persen ekspor sawit Indonesia kini didominasi produk hilir
Lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia kini berwujud produk olahan hilir. Hilirisasi ini menyumbang devisa tahunan lebih dari $20 miliar serta menyerap hingga 16,5 juta tenaga kerja di seluruh Nusantara.
BPDP Kemenkeu sebut 80 persen ekspor sawit Indonesia kini didominasi produk hilir
Perkebunan kelapa sawit di Mamuju Tengah, Pulau Sulawesi, Indonesia, 25 Februari 2025. (AP Photo/Dita Alangkara, File)

Sektor kelapa sawit terus memperkokoh posisinya sebagai motor penggerak utama perekonomian nasional. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan mengungkap bahwa struktur ekspor komoditas sawit Indonesia telah mengalami pergeseran signifikan dari bahan mentah menuju produk bernilai tambah.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Kemenkeu, Zaid Burhan Ibrahim, menyampaikan bahwa capaian hilirisasi ini terbukti mendongkrak devisa negara secara berkelanjutan.

“Nilai ekspor sawit Indonesia setiap tahunnya mencapai lebih dari $20 miliar. Ini membuat komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara,” ujar Zaid di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan, sebagian besar komoditas yang dikirim ke luar negeri bukan lagi berupa minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO).

"Saat ini, lebih dari 80 persen ekspor sawit kita sudah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak mentah," kata Zaid.

Transformasi ini melahirkan beragam produk olahan siap pakai, mulai dari minyak goreng dan olahan pangan, oleokimia untuk kebutuhan industri barang konsumsi (consumer goods), hingga bahan bakar nabati (biofuel) sebagai sumber energi terbarukan.

Tulang Punggung Ekonomi dan Peran Pekebun Rakyat

Sektor perkebunan secara keseluruhan turut mencatatkan kontribusi penting terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yakni menyumbang sekitar 4,5 persen pada 2025. Dari total industri sawit di tanah air, pekebun rakyat memegang peran kunci dengan porsi menguasai 41 persen dari total rantai pasok.

Zaid menegaskan bahwa petani sawit swadaya merupakan pemain utama, bukan sekadar pelengkap industri. Petani rakyat tercatat mampu memproduksi lebih dari 16 juta ton hasil olahan sawit setiap tahunnya.

Dari segi penyerapan tenaga kerja, rantai industri sawit kini menampung sekitar 16,5 juta pekerja, baik yang terlibat langsung di area perkebunan maupun di sektor pendukung seperti logistik, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Solusi Produktivitas Lewat Peremajaan Sawit

Melihat besarnya dampak ekonomi tersebut, pemerintah berkomitmen terus meningkatkan produktivitas kebun sawit tanpa harus melakukan perluasan lahan (ekstensifikasi).

Guna mengatasi masalah pohon sawit tua yang produktivitasnya menurun, BPDP menyalurkan dana hibah melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dalam program ini, petani menerima bantuan dana sebesar Rp60 juta per hektar untuk setiap orang, dengan batas maksimal kepemilikan hingga 4 hektar.

"Tantangan utama pengembangan komoditas ini memang masalah produktivitas, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas sawit tanpa perlu menambah lahan," pungkas Zaid.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia desak AS bebaskan tarif impor minyak sawit
SUMBER:TRT Indonesia
Jelajahi
Bank Indonesia: Utang luar negeri Indonesia capai $454,8 miliar pada Juli 2026
Indonesia dan India perkuat kerja sama telekomunikasi hingga teknologi 6G
Grab akuisisi saham mayoritas Atome Financial senilai Rp26,36 triliun
Indonesia bangun pusat bioetanol di Lampung, target produksi komersial 60 ribu kiloliter
Indonesia dan Bulgaria perkuat kerja sama perdagangan dan investasi
Indonesia jajaki PTA dengan Mercosur demi rintis jalan menuju CEPA
Pasar stabil meski pergantian mendadak Menkeu, Suahasil tegaskan jaga kredibilitas APBN
AS resmi tetapkan bea masuk tinggi untuk impor panel surya dari Indonesia
Indonesia dan China percepat kerja sama energi baru, ekspansi dari PLTS hingga manufaktur
Indonesia dan AS dorong kerja sama ekonomi kreatif jelang WCCE 2026
Kadin buka peluang investasi Swedia di Indonesia, soroti IEU-CEPA dan OECD
Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak, ICP Indonesia jadi $89,43 per barel
PT Timah perluas ekspor ke Filipina dan Inggris, bidik Timur Tengah pada 2027
Kemendag dorong UMKM tingkatkan ekspor ke pasar global memanfaatkan teknologi AI
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Pemerintah ambil alih saham pengelola kereta Whoosh, utang direstrukturisasi hingga 80 tahun
Indonesia dan Australia mulai evaluasi total perjanjian kerja sama ekonomi IA-CEPA
Pemerintah perluas inklusi keuangan melalui penyediaan rekening bagi masyarakat
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Cadangan devisa naik $146,5 miliar pada Agustus 2026, BI: Ketahanan eksternal tetap solid