PBB peringatkan krisis kemanusiaan Palestina memburuk akibat agresi Israel dan kekerasan pemukim

OCHA mencatat pembunuhan, korban anak, dan pengungsian di Tepi Barat, serta memperingatkan bantuan ke Gaza tak sebanding dengan besarnya kebutuhan.

By
Warga Palestina di dekat mobil terbakar akibat serangan pemukim ilegal Israel di Huwara. / Reuters

United Nations memperingatkan bahwa agresi militer Israel yang terus berlangsung serta kekerasan pemukim ilegal di Tepi Barat yang diduduki terus menempatkan warga Palestina dalam risiko serius dan memperdalam kebutuhan kemanusiaan.

Dalam pernyataannya, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut, “Selama dua pekan terakhir, OCHA mendokumentasikan insiden lanjutan yang mengakibatkan warga Palestina tewas dan terluka.”

Dalam periode 9–22 Desember, “enam warga Palestina tewas, termasuk lima akibat tindakan pasukan Israel dan satu oleh pemukim Israel,” kata OCHA, seraya menambahkan bahwa “dari total tersebut, empat merupakan anak-anak.”

OCHA juga menyuarakan keprihatinan atas berlanjutnya pengungsian di Tepi Barat yang diduduki. Laporan menyebutkan “lebih dari 100 warga Palestina mengungsi akibat pembongkaran dan pengusiran selama dua pekan terakhir, termasuk 63 orang di Yerusalem Timur dan sisanya di Area C.”

Menyoroti satu insiden, OCHA menyatakan pengungsian itu “termasuk 50 orang, di antaranya 21 anak, yang kehilangan tempat tinggal akibat satu pembongkaran Israel terhadap gedung empat lantai di kawasan Silwan pada 22 Desember, dengan alasan tidak memiliki izin bangunan dari otoritas Israel—izin yang hampir mustahil diperoleh warga Palestina.”

Akses ke Gaza masih sulit

Berdasarkan data Palestina, sejak Oktober 2023 pasukan Israel dan pemukim ilegal telah menewaskan sedikitnya 1.102 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, melukai hampir 11.000 orang, dan menahan sekitar 21.000 orang.

Beralih ke Gaza, OCHA menyebut PBB bersama para mitranya “terus merespons kebutuhan yang meningkat dari keluarga-keluarga pengungsi serta berupaya mengurangi dampak badai musim dingin terbaru yang memperburuk kondisi ribuan orang di seluruh Jalur Gaza.”

Namun, OCHA memperingatkan bahwa “meski upaya tersebut dilakukan, respons kemanusiaan belum mampu mengimbangi besarnya kebutuhan akibat pembatasan yang terus diberlakukan otoritas Israel, termasuk terhadap masuknya pasokan ke Gaza.”

OCHA juga menyoroti tantangan infrastruktur. Kekurangan material baru disebut menghambat upaya pemeliharaan dan perbaikan jaringan pembuangan limbah di Kota Gaza, sehingga tim terpaksa mengandalkan komponen lama.