Macky Sall: mantan presiden Senegal maju sebagai calon sekjen PBB
Mantan presiden Senegal yang juga diplomat berpengalaman ini berupaya menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekjen PBB, membawa pengalaman, jaringan internasional, dan visi representasi Afrika di meja tertinggi dunia.
Selama dua belas tahun menjabat, Macky Sall sering dijuluki “geolog politik,” karena kemampuannya memahami dan menavigasi kompleksitas masyarakat Senegal yang terus berubah.
Kini, saat ia meninggalkan kursi presiden untuk fokus pada kampanye sebagai Sekretaris Jenderal PBB 2026, warisannya mulai dinilai ulang: Sall dianggap sebagai pemimpin yang mengubah negara Afrika Barat itu menjadi lahan pembangunan untuk masa depan.
Lahir pada 11 Desember 1961 di Fatick, Senegal barat, Sall memulai karier sebagai ahli geologi sebelum meniti karier di sektor publik.
Ia meraih gelar magister geologi dari Cheikh Anta Diop University di Dakar pada 1988 dan mengumpulkan pengalaman di sektor energi dan pertambangan Senegal, yang membentuk peran awalnya di pemerintahan.
Setelah menjabat sebagai Perdana Menteri di bawah Abdoulaye Wade, Sall memisahkan diri untuk mendirikan Alliance for the Republic (APR). Kemenangan pemilu 2012 menjadi momen penting, menandai pergeseran menuju konsep “Emerging Senegal”.
Selama dua periode kepemimpinannya, Sall merombak lanskap fisik negara. Ia mengalihkan fokus pembangunan dari jalan-jalan padat di Dakar menuju Diamniadio, sebuah “smart city” bernilai jutaan dolar.
Di bawah kepemimpinannya, Senegal meluncurkan Train Express Régional (TER) dan secara signifikan memperluas elektrifikasi pedesaan.
Ahli membangun aliansi global
Kebijakan luar negeri Sall dikenal dengan prinsip “non-alignment aktif”.
Ia mempertahankan hubungan historis yang kuat dengan Prancis dan Amerika Serikat, sambil agresif menjalin kemitraan baru yang bisa menghasilkan dampak cepat.
Salah satu strategi unggulannya adalah kemitraan strategis dengan Türkiye. Alih-alih hanya mengandalkan bantuan tradisional, Sall membangun hubungan personal dan profesional yang ia sebut sebagai “persaudaraan” dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Hubungan ini menghasilkan proyek nyata secara cepat.
Perusahaan Türkiye seperti Summa dan Limak menjadi mitra favoritnya dalam proyek-proyek besar, termasuk Stadion Abdoulaye Wade berkapasitas 50.000 kursi dan Dakar Arena.
Pada 2022, target perdagangan dengan Senegal naik lebih dari dua kali lipat dari US$400 juta menjadi US$1 miliar, menurut Presiden Erdogan dalam Turkey-Senegal Business Forum.
“Target kami kini US$1 miliar. Dengan upaya bersama, kami akan mencapainya dalam waktu singkat,” ujarnya.
Perdagangan dengan Senegal naik 42 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai US$540 juta pada 2021, meski pandemi COVID-19 masih berlangsung, kata Erdoğan.
Pada 2024, Sall mengejutkan banyak kritikus dengan mematuhi batas konstitusional dan memimpin transfer kekuasaan yang damai ke oposisi.
Langkah ini memperkuat statusnya sebagai “elder statesman” di benua Afrika, di mana upaya menjabat periode ketiga masih umum.
Kini, dengan rekam jejaknya sebagai mantan Ketua Uni Afrika, Sall berkampanye untuk menjadi Sekretaris Jenderal PBB asal Afrika pertama dalam beberapa dekade.