Sorakan penonton iringi teriakan ‘ICE out’ Bad Bunny di Grammy

Pekan lalu, Donald Trump menyatakan akan melewatkan Super Bowl tahun ini karena tidak puas dengan artis pengisi halftime show, termasuk Bad Bunny.

By
Penghargaan Grammy Tahunan ke-68 di Los Angeles. / AP

Bintang besar asal Puerto Riko, Benito Antonio Martinez Ocasio—yang dikenal dengan nama panggung Bad Bunny—menyampaikan pesan keras menentang razia imigrasi yang mengguncang Amerika Serikat saat menerima Grammy Award untuk kategori Best Música Urbana Album.

“Sebelum mengucap terima kasih kepada Tuhan, saya ingin mengatakan ‘ICE out’,” ujar Bad Bunny (31) yang langsung disambut sorak penonton di Los Angeles, Minggu lalu. Pernyataan itu disampaikan hanya sepekan sebelum ia dijadwalkan menjadi penampil utama halftime show Super Bowl.

“Kami bukan orang liar, bukan binatang, bukan alien. Kami manusia, dan kami adalah orang Amerika.”

Bad Bunny selama ini dikenal sebagai pengkritik vokal kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama terkait pengetatan kebijakan imigrasi.

Pekan lalu, Trump mengatakan tidak akan menghadiri Super Bowl tahun ini karena tidak puas dengan pilihan artis pengisi acara halftime show, seperti dilaporkan The New York Post.

Trump mengaku kecewa karena rapper Latin Bad Bunny dan band rock Green Day—keduanya dikenal sebagai pengkritik keras masa kepresidenannya—dipilih untuk tampil di ajang final NFL tersebut yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari di San Francisco.

“Saya menentang mereka. Menurut saya ini pilihan yang buruk. Yang dilakukan hanya menebar kebencian. Buruk sekali,” kata Trump.

Halftime show Super Bowl merupakan salah satu pertunjukan musik paling banyak ditonton di dunia, kerap disaksikan puluhan juta penonton dan memiliki pengaruh budaya serta politik yang besar.

Kebijakan pengetatan imigrasi pemerintahan Trump juga dikaitkan dengan tewasnya Renee Good dan Alex Pretti—keduanya warga negara Amerika Serikat—dalam insiden yang melibatkan agen ICE di negara bagian Minnesota.

Gelombang aksi protes besar menentang Immigration and Customs Enforcement (ICE) pun terjadi di berbagai kota di Amerika Serikat, seiring Departemen Kehakiman membuka penyelidikan pelanggaran hak sipil atas penembakan fatal terhadap Alex Pretti oleh aparat federal.

Berdasarkan data pemerintah yang diperoleh CBS News, ICE saat ini menahan lebih dari 70.000 orang yang menghadapi deportasi di berbagai fasilitas detensi imigrasi di seluruh Amerika Serikat. Jumlah tersebut melonjak tajam dibandingkan setahun lalu, ketika jumlah tahanan ICE masih sekitar 40.000 orang.