Minggu lalu, seorang jaksa internasional yang menangani kejahatan perang mengatakan bahwa bukti yang muncul dari lokasi kuburan massal di Suriah telah mengungkapkan adanya "mesin kematian" yang dikelola negara di bawah rezim Assad.
Komisi Internasional untuk Orang Hilang di Den Haag, secara terpisah, mengatakan telah menerima data yang menunjukkan kemungkinan adanya hingga 66 lokasi kuburan massal yang belum diverifikasi di Suriah.
Kepala Komisi, Kathryne Bomberger, mengatakan kepada Reuters bahwa portal pelaporan orang hilang kini "meledak" dengan kontak baru dari keluarga-keluarga.
Pintu-pintu penjara rahasia Suriah terbuka setelah kelompok-kelompok bersenjata anti-rezim menggulingkan rezim Assad bulan ini, lebih dari 13 tahun setelah penindasan brutalnya terhadap protes anti-rezim yang memicu perang yang telah menewaskan lebih dari 500.000 orang.
Banyak keluarga bergegas menuju bekas penjara, pusat penahanan, dan lokasi kuburan massal untuk mencari jejak-jejak kerabat mereka yang hilang.
Jutaan jiwa terkubur di bawah tanah
Saat menggambarkan pemandangan di Tadamon, Damaskus Selatan, PBS melaporkan: "Setelah hampir 14 tahun perang, ini adalah tanah tandus yang lebih banyak menyimpan tubuh yang terkubur di bawah tanah daripada orang yang masih hidup di atasnya. Tulang belulang manusia tersebar di sekelilingnya."
Suruh Tugas Darurat Suriah mengklaim bahwa sebuah kuburan massal dekat Damaskus menyimpan sisa-sisa tubuh setidaknya 100.000 orang di Al Qutayfah.
BBC melaporkan bahwa di Husseiniyeh, di jalan yang menuju bandara Damaskus, gambar satelit menunjukkan perbedaan di lanskap area-area di mana kuburan massal ditemukan.
Sebuah kelompok penyelamat kunci Suriah dan seorang aktivis mengatakan kepada AFP bahwa situs pemakaman di luar Damaskus kemungkinan adalah kuburan massal untuk tahanan.
Situs tersebut, yang terletak dekat kawasan industri Adra di timur laut ibu kota, kurang dari 20 kilometer dari penjara terkenal Sednaya.
"Kami kira ini adalah kuburan massal, kami menemukan sebuah kuburan terbuka dengan tujuh kantong yang berisi tulang belulang," kata kelompok penyelamat Helm Putih.
Lebih dari 12 kuburan massal ditemukan di Provinsi Daraa di Suriah selatan yang berisi sisa-sisa tubuh yang diduga adalah warga sipil yang dibunuh oleh rezim pemimpin yang digulingkan, Bashar Assad.
Warga Suriah yang tinggal di dekat sebuah pemakaman di Najha, dekat Damaskus, menggambarkan melihat truk pendingin yang mengirim tubuh-tubuh yang kemudian dibuang ke dalam parit-parit panjang yang digali dengan buldoser.
Kantong-kantong berisi tulang
Gambar satelit yang dianalisis oleh Reuters menunjukkan bahwa penggalian dalam skala besar dimulai di Al Qutayfah antara tahun 2012 dan 2014, dan terus berlanjut hingga 2022.
Tim Pertahanan Sipil Suriah telah menerima banyak laporan dari orang-orang yang mengklaim telah melihat mobil membuang kantong-kantong di pinggir jalan pada malam hari. Kantong-kantong itu kemudian ditemukan berisi tulang belulang.
"Sejak jatuhnya rezim, kami telah menerima lebih dari 100 laporan tentang kuburan massal. Orang-orang percaya setiap situs militer memiliki satu," kata pejabat pertahanan sipil.
Detail tentang kuburan massal di Suriah pertama kali terungkap selama sidang pengadilan di Jerman dan kesaksian di kongres AS pada tahun 2021 dan 2023.
Lebih dari 150.000 orang dianggap hilang, menurut organisasi internasional dan Suriah, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sumber: TRT World dan Agensi











