Dari homeschooling hingga cum laude, kisah keluarga Muslim membangun sukses akademik di AS
Akif Ali, lulusan George Mason University, menuntaskan pendidikan pra-universitas melalui homeschooling dan menyebut hafalan Al-Qur’an di Diyanet Center of America berperan besar membentuk kedisiplinan serta prestasi akademiknya.
Washington, DC — Di negara bagian Virginia, Amerika Serikat, Akif Ali (20) baru saja lulus dari College of Science jurusan Neurosains di George Mason University dengan predikat kehormatan tertinggi. Ia juga meraih gelar associate degree di bidang Fisika.
Tinggal bersama keluarga Muslimnya—orang tua serta dua saudara kandung—Akif Ali kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran.
Namun, pencapaiannya berakar dari jalur pendidikan yang tidak lazim.
Akif Ali menyelesaikan seluruh pendidikan pra-universitasnya melalui homeschooling. Dalam wawancara dengan TRT World, ia menyebut sistem ini “fleksibel” dan membantunya memahami materi pelajaran dengan lebih cepat.
“Homeschooling memungkinkan saya belajar sesuai kecepatan sendiri untuk memastikan benar-benar memahami apa yang dipelajari,” ujarnya, seraya menekankan bahwa kedisiplinan diri menjadi kunci utama keberhasilannya.
Ia mengakui tantangan terbesarnya di awal adalah menjaga tanggung jawab terhadap tugas tanpa adanya disiplin eksternal seperti di sekolah formal.
Menurutnya, kebiasaan menghafal Al-Qur’an membantu membentuk ketekunan yang dibutuhkan untuk menghadapi mata pelajaran yang sulit.
Akif Ali juga menilai Diyanet Center of America (DCA) berperan penting dengan menyediakan program intensif dan fasilitas yang mendukungnya dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an (hifz).
Transisi ke bangku kuliah menjadi tonggak penting dalam perjalanannya.
Meski sempat diperingatkan oleh teman-teman keluarga bahwa minimnya pengalaman kelas formal bisa menjadi hambatan, Akif Ali justru mampu berprestasi.
“Sebelum masuk universitas, ada yang mengatakan saya akan kesulitan bersosialisasi. Awalnya saya percaya, tetapi setelah mengikuti perkuliahan, saya sadar homeschooling justru memberi keunggulan dalam hal motivasi diri,” katanya.
Untuk mencegah potensi keterasingan sosial, ibu Akif Ali, Asna, membangun program homeschooling yang mencakup debat dan berbagai kegiatan kelompok.
Di luar akademik, Akif Ali aktif berinteraksi dengan teman sebayanya melalui masjid, program Al-Qur’an, serta olahraga komunitas, termasuk bermain di liga bola basket.
Homeschooling menggeser norma
Praktik homeschooling di Amerika Serikat terus menunjukkan pertumbuhan sejak 2020, menandakan pergeseran jangka panjang dan bukan sekadar fenomena sementara akibat pandemi.
Menurut National Center for Education Statistics, lebih dari 5 persen anak-anak Amerika berusia 5 hingga 17 tahun menerima pendidikan berbasis rumah atau pendidikan virtual penuh pada tahun ajaran 2022–2023.
Data dari Johns Hopkins University menunjukkan angka tersebut terus meningkat sepanjang 2024 dan 2025.
Para peneliti menilai tren ini mencerminkan evaluasi ulang terhadap sistem sekolah tradisional, yang didorong oleh kekhawatiran soal keamanan, tekanan sosial, serta keinginan akan pendidikan yang lebih fleksibel dan berbasis nilai.
Dalam sebuah laporan terbaru, Emily Bott, seorang guru pendidikan khusus, menjelaskan alasannya memilih homeschooling bagi anak-anaknya.
“Saya tidak menentang guru, saya menentang sistemnya,” ujarnya, seraya menyinggung ukuran kelas yang besar dan “kelelahan” yang dialami anak-anak dalam lingkungan sekolah konvensional yang bertekanan tinggi.
“Sebagai guru sekolah negeri, saya telah melihat risetnya dan mengalami langsung. Inilah alasan mengapa suatu hari nanti saya akan memilih homeschooling untuk anak-anak saya.”
Tradisi keluarga
Dua adik Akif Ali, Fathima (18) dan Affan (16), kini mengikuti jejak yang sama.
Keduanya saat ini telah menjadi mahasiswa di bidang studi yang sama dan menargetkan sekolah kedokteran.
Fathima mengatakan meski terdapat perbedaan usia, ia dan kakaknya berada di tahun akademik yang sama—cerminan dari sistem homeschooling yang memungkinkan siswa maju berdasarkan kemampuan, bukan usia.
“Kalau sesuatu berhasil untuk kakak saya, saya dan adik saya mengikuti. Kalau tidak berhasil, kami mengambil jalan yang berbeda,” ujarnya.
Fathima memutuskan bergabung dengan homeschooling setelah melihat apa yang ia sebut sebagai “perubahan perilaku negatif” di kalangan teman-temannya saat duduk di kelas enam.
Ia melihat kedua kakaknya pulang dari Diyanet Center dengan perasaan “sangat bahagia” dan cerita-cerita positif setiap hari, yang menginspirasinya memulai perjalanan hafalan Al-Qur’an dan pendidikan berbasis rumah.
Motivasi religius dan sosial
Affan memandang kakak tertuanya sebagai panutan.
“Melihat keberhasilan kakak saya memberi arah tentang apa yang seharusnya saya lakukan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa jalur yang ditempuh Akif Ali menjadi cetak biru baginya, sehingga ia bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk pemrograman, olahraga, dan Al-Qur’an.
Affan juga menilai saling menyemangati di antara ketiga bersaudara serta dukungan orang tua menjadi faktor utama keberhasilan mereka.
Bagi orang tua Akif Ali, motivasi utama memilih homeschooling adalah menjaga nilai-nilai yang mereka yakini.
“Homeschooling memungkinkan kami membangun lingkungan yang aman dan berlandaskan nilai, di mana pendidikan dapat berlangsung secara terarah, sesuai ritme anak, dan sejalan dengan tujuan jangka panjang keluarga,” ujar mereka.
Meski pengaturan jadwal harian bukan perkara mudah, hasilnya dinilai sepadan.
Pada masa pandemi, Asna dan Kazam mendirikan HIRA Academy, platform pengajaran Al-Qur’an daring gratis yang menarik peserta dari Amerika Serikat, Prancis, Türkiye, dan Australia.
Mereka juga membentuk komunitas “Homeschool Army” untuk mendukung keluarga-keluarga lain.
Upaya tersebut mengantarkan Asna masuk nominasi sebagai guru oleh National Society of High School Scholars, sebuah pengakuan yang menurutnya menegaskan misi mereka dalam membina generasi yang seimbang dan berpandangan ke depan.
“Pengakuan ini semakin menguatkan misi di balik Homeschool Army—untuk membentuk individu yang utuh, percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, dan bertanggung jawab secara sosial,” tutup Asna.