Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, resmi menyodorkan lima usulan prioritas strategis untuk memperkokoh kemitraan antara ASEAN dan China. Langkah ini diambil sebagai respons konkret di tengah eskalasi ketidakpastian geopolitik global serta fragmentasi ekonomi yang kian kompleks.
Melansir pemberitaan metrotvnews, usulan tersebut dipaparkan dalam gelaran Jakarta Forum 2026 yang menandai peringatan lima tahun Kemitraan Strategis Komprehensif kedua pihak di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (22/6).
"Fondasi hubungan kedua pihak sudah kuat. Pertanyaannya sekarang adalah apa yang harus terus kita bangun di atas fondasi tersebut," ujar Sekjen Kao.
Hubungan ekonomi kedua raksasa ini memang berkembang pesat; pada tahun 2025 saja, nilai perdagangan bilateral telah menembus angka 1 triliun dolar AS dengan realisasi investasi China ke Asia Tenggara melampaui 20 meningkatkan miliar dolar AS. Berangkat dari modal kuat ini, berikut adalah lima pilar masa depan yang diajukan oleh Sekjen ASEAN:
Jaga perdamaian dan kejar target COC tahun ini
Prioritas utama berfokus pada stabilitas kawasan dan penghormatan hukum internasional. Sekjen Kao mengapresiasi dukungan Beijing terhadap sentralitas ASEAN dan membawa kabar baik mengenai kelanjutan negosiasi Code of Conduct (COC) di Laut China Selatan. Kedua pihak saat ini tengah membuat kemajuan substantif dengan target penyelesaian regulasi perairan tersebut pada tahun ini.
Pacu ekonomi digital lewat DEFA
Di sektor inovasi, ASEAN menargetkan penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada tahun 2026 ini. Jika diimplementasikan penuh, regulasi ini diproyeksikan mendongkrak nilai ekonomi digital kawasan hingga 2 triliun dolar AS pada 2030. ASEAN membidik keunggulan teknologi China di bidang kecerdasan buatan (AI), e-commerce, hingga fintech sebagai mesin pertumbuhan baru.
Ketahanan energi dan interkoneksi jaringan listrik
Krisis yang tengah membara di Timur Tengah menjadi alarm keras bagi kerentanan rantai pasok energi dunia. Oleh karena itu, prioritas ketiga diarahkan pada pendalaman investasi energi terbarukan, pembiayaan hijau, dan ketahanan pangan. Salah satu proyek konkret yang terus didorong adalah pengembangan ASEAN Power Grid sebagai jalur interkoneksi energi regional.
Perang kolektif melawan kejahatan transnasional
Ancaman lintas batas yang kian marak, seperti judi/penipuan daring (online scams), kejahatan siber, perdagangan manusia, hingga sindikat narkotika, kini memerlukan respons kolektif yang lebih ketat. ASEAN mendesak penguatan koordinasi penegakan hukum dan pertukaran informasi intelijen dengan China untuk memberantas jaringan kriminal ini.
Dongkrak interaksi warga pascapandemi
Hubungan akar rumput dinilai sebagai fondasi jangka panjang yang menjaga kemitraan tetap relevan. Mengingat China menempatkan diri sebagai penyumbang wisatawan asing terbesar di ASEAN dengan catatan 21,8 juta kunjungan pada tahun 2025, pilar kelima ini akan berfokus pada penguatan sektor pariwisata, pertukaran pelajar, serta beasiswa pendidikan antarkedua wilayah.














