DUNIA
2 menit membaca
Kekeringan dorong 6,5 juta warga Somalia ke jurang kelaparan akut: PBB
Somalia menetapkan status darurat kekeringan nasional pada November setelah bertahun-tahun gagal panen akibat minimnya hujan, sementara negara-negara lain di kawasan juga terdampak.
Kekeringan dorong 6,5 juta warga Somalia ke jurang kelaparan akut: PBB
Seorang wanita memeriksa anaknya yang kekurangan gizi di Rumah Sakit Banadir di Mogadishu, Somalia, Rabu, 14 Mei 2025 (FILE) / AP
17 jam yang lalu

Sekitar 6,5 juta orang di Somalia menghadapi kelaparan akut akibat kekeringan berkepanjangan, demikian disampaikan pemerintah dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Peringatan ini muncul hanya beberapa hari setelah badan pangan PBB mengingatkan bahwa bantuan pangan terancam terhenti pada April jika tidak ada pendanaan baru.

Lebih dari sepertiga warga yang mengalami malnutrisi akut adalah anak-anak, menurut pernyataan bersama pemerintah Somalia dan PBB di Somalia pada Selasa.

Krisis tersebut memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka, dengan banyak di antaranya memadati kamp-kamp pengungsian di Mogadishu dan kota-kota lain.

“Kekeringan ini telah memburuk secara mengkhawatirkan, dengan harga air melonjak, pasokan pangan terbatas, ternak mati, dan pendanaan kemanusiaan yang sangat minim,” ujar Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Somalia, George Conway, dalam sebuah pernyataan.

TerkaitTRT Indonesia - Jutaan warga Somalia di ambang krisis kelaparan saat WFP hadapi kekurangan dana

Hawo Abdi mengaku kehilangan dua anaknya akibat penyakit setelah kekeringan menghancurkan kampung halamannya di wilayah Bay, Somalia.

“Ketika saya melihat penderitaan semakin parah, saya meninggalkan rumah dan pergi ke Mogadishu,” ujarnya kepada Reuters dari tempat penampungannya di pinggiran ibu kota.

Pekan lalu, World Food Programme menyebut jumlah warga yang menghadapi kelaparan akut mencapai 4,4 juta orang. Lembaga itu juga mengatakan telah memangkas bantuan menjadi hanya sedikit di atas 600.000 orang, dari sebelumnya 2,2 juta penerima manfaat pada awal tahun ini.

Belum jelas apakah angka terbaru tersebut mencerminkan lonjakan tajam jumlah warga yang berisiko atau perbedaan metode penghitungan.

Data pemerintah dan PBB tersebut sejalan dengan angka yang dirilis pada hari yang sama oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC), lembaga yang menjadi standar global dalam menentukan tingkat keparahan krisis pangan.

Meski musim hujan pada April hingga Juni berpotensi membawa sedikit kelegaan, sekitar 5,5 juta orang diperkirakan tetap berada pada level krisis atau lebih buruk, dengan 1,6 juta orang berada dalam kondisi darurat, menurut pernyataan tersebut.

Abdiyo Ali terpaksa meninggalkan lahan pertaniannya di wilayah Lower Shabelle.

“Ladang kami hancur, ternak kami mati, dan sumber air semakin jauh. Kami tidak punya apa pun lagi untuk dibawa,” kata Ali kepada Reuters pekan lalu saat menyiapkan makanan di kamp pengungsi di luar Mogadishu.

SUMBER:Reuters