ASIA
2 menit membaca
Bursa komoditas Indonesia hadapi persaingan dan tantangan pasar global
Bursa baru Indonesia juga menghadapi persaingan Malaysia di pasar minyak sawit. Meski menjadi produsen dan eksportir sawit terbesar dunia, bursa sawit Indonesia yang diluncurkan pada 2023 masih mencatat aktivitas jauh di bawah Bursa Malaysia.
Bursa komoditas Indonesia hadapi persaingan dan tantangan pasar global
Kapal tongkang pengangkut batu bara di Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, pada 19 Agustus 2026. / AP

Upaya Indonesia memperbesar pengaruh terhadap harga komoditas global melalui bursa baru menghadapi tantangan. Rencana ini berisiko menjadi bumerang jika transaksi diwajibkan sebelum bursa memiliki likuiditas dan kepercayaan pasar yang kuat.

Bursa tersebut dijadwalkan beroperasi tahun depan sebagai bagian dari upaya Presiden Prabowo Subianto memperkuat peran negara dalam pengelolaan sumber daya alam. Indonesia merupakan pemasok terbesar dunia untuk minyak sawit, nikel, dan batu bara termal, serta produsen utama tembaga dan bauksit.

Dalam pidatonya di parlemen pada Agustus, Prabowo mengatakan Indonesia lebih memilih menahan komoditas daripada menjualnya terlalu murah. Kepala Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Sarjito menyebut transaksi komoditas nantinya akan diwajibkan melalui bursa tersebut.

Namun, sejumlah analis menilai menjadi produsen besar saja tidak cukup untuk menentukan harga global. Kepercayaan, likuiditas, transparansi, kepastian aturan, serta partisipasi investor internasional dibutuhkan agar bursa dapat menjadi acuan harga.

TerkaitTRT Indonesia - Pelaku usaha desak kejelasan teknis terkait kebijakan baru ekspor SDA

Tantangan Pasar Global

Analis Rystad Energy Simeng Deng mengatakan kepada Reuters bahwa pembeli batu bara Indonesia dapat mengalihkan sumber pasokan. Ekspor batu bara Indonesia telah tertekan ketika China dan India mulai meningkatkan pembelian dari Mongolia, Rusia, dan Afrika Selatan.

Bursa baru Indonesia juga menghadapi persaingan Malaysia di pasar minyak sawit. Meski menjadi produsen dan eksportir sawit terbesar dunia, bursa sawit Indonesia yang diluncurkan pada 2023 masih mencatat aktivitas jauh di bawah Bursa Malaysia.

Julian McGill dari Glenauk Economics menilai persaingan dengan Bursa Malaysia akan berat. M.R. Chandran dari IRGA memperkirakan bursa Indonesia lebih mungkin menjadi referensi domestik untuk bea ekspor dan kebutuhan dalam negeri, sementara CPO Futures Malaysia tetap menjadi acuan global.

Kredibilitas juga menjadi perhatian pelaku industri. Transparansi, kepastian hukum, dan independensi bursa dinilai penting untuk menarik lebih banyak pelaku pasar.

Sebagai pemasok utama berbagai komoditas strategis, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisinya di pasar global melalui bursa baru tersebut. Namun, keberhasilannya bergantung pada likuiditas, partisipasi internasional, transparansi, serta mekanisme harga yang dipercaya pasar.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia bebaskan empat negara dari aturan devisa hasil ekspor sumber daya alam




SUMBER:TRT Indonesia & Agensi