Filipina memastikan pasokan batu bara tetap aman setelah Indonesia menjamin kelangsungan ekspor di tengah gejolak energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, mengatakan pemerintah telah menerima jaminan langsung dari Indonesia terkait stabilitas pasokan. “Kami sudah mendapat kepastian, dan hubungan kami sangat baik,” ujarnya dalam konferensi pers, dikutip oleh AFP.
Di tengah lonjakan harga energi, Manila berencana meningkatkan sementara produksi listrik berbasis batu bara untuk menahan kenaikan tarif listrik. Garin menyebut langkah ini sebagai solusi jangka pendek, dengan target implementasi mulai awal April. Pemerintah juga tengah berkoordinasi dengan perusahaan pembangkit untuk mengetahui sejauh mana kapasitas produksi dapat ditingkatkan.
Filipina, yang sangat bergantung pada batu bara untuk sekitar 60 persen kebutuhan listriknya, sebelumnya berupaya mengurangi ketergantungan tersebut. Pemerintah juga berupaya memperkuat cadangan energi dengan merencanakan pengadaan sekitar 1 juta barel minyak dari dalam dan luar Asia Tenggara. Saat ini, cadangan bahan bakar nasional diperkirakan cukup untuk sekitar 45 hari konsumsi.
Indonesia sendiri merupakan pemasok utama batu bara termal global, dengan kontribusi sekitar setengah dari total ekspor dunia pada 2025. Negara ini juga menjadi mitra utama bagi banyak negara pengimpor batu bara terbesar, termasuk Filipina.
Filipina memiliki kapasitas listrik sekitar 27.927 megawatt dengan permintaan puncak sekitar 19.000 megawatt, sebagian besar pembangkit berbasis batu bara bersifat tidak fleksibel. Hal ini membuat sistem sulit menyesuaikan fluktuasi permintaan.
Konflik di Timur Tengah yang meningkat sejak akhir Februari telah mengguncang pasar energi global, termasuk distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan energi dunia. Kondisi ini memperbesar tekanan terhadap negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk Filipina.







