BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Surplus dagang Indonesia tembus US$3,32 miliar di tengah tekanan ekspor dan gejolak global
Surplus perdagangan Indonesia melonjak lebih tinggi dari perkiraan pada Maret menjadi US$3,32 miliar, meski ekspor menyusut di tengah pelemahan permintaan global, tekanan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
Surplus dagang Indonesia tembus US$3,32 miliar di tengah tekanan ekspor dan gejolak global
FOTO FILE: Terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. / Reuters

Surplus neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan capaian lebih tinggi dari perkiraan pada Maret, di tengah melemahnya kinerja ekspor dan ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik serta volatilitas nilai tukar.

Data resmi yang dirilis pada Senin menunjukkan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$3,32 miliar, melampaui proyeksi analis sebesar US$2,41 miliar dan naik tajam dari bulan sebelumnya yang sebesar US$1,28 miliar.

Capaian ini terjadi meski ekspor Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam justru mengalami penurunan 3,1 persen secara tahunan menjadi US$22,53 miliar. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar dan juga turun dibandingkan kenaikan pada Februari.

Penurunan ekspor terutama dipicu oleh melemahnya pengiriman komoditas tambang seperti tembaga dan lignit, serta sejumlah produk perkebunan seperti kakao, kopi, dan teh. Otoritas Statistik Indonesia menyebut penurunan juga dipengaruhi normalisasi setelah lonjakan ekspor ke Amerika Serikat pada periode sebelumnya.

“Pengiriman kemungkinan juga terdampak oleh percepatan ekspor tahun lalu serta melambatnya permintaan global, terutama dari China,” ujar Faisal Rachman, ekonom Bank Permata.

Di sisi lain, impor tercatat naik 1,51 persen menjadi US$19,21 miliar, namun masih di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sekitar 10 persen. Para ekonom menilai kenaikan terbatas ini mencerminkan normalisasi setelah lonjakan pembelian menjelang Idulfitri serta antisipasi gangguan rantai pasok akibat ketegangan geopolitik.

Tekanan eksternal turut meningkat seiring melemahnya rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah 17.385 per dolar AS pekan lalu, di tengah kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah, termasuk perang di Iran.

“Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah menambah risiko terhadap perdagangan global, sekaligus mendorong kenaikan harga energi yang pada akhirnya meningkatkan biaya impor,” kata Faisal.

Meski dampak konflik belum sepenuhnya tercermin dalam data Maret, ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memperkirakan tekanan baru akan muncul pada bulan-bulan berikutnya, terutama dari kenaikan harga bahan bakar.

“Kami melihat ada potensi surplus perdagangan Indonesia akan menyempit karena lonjakan impor energi akibat kenaikan harga minyak,” ujarnya.

Sementara itu, inflasi pada April menunjukkan perlambatan menjadi 2,42 persen dari 3,48 persen pada Maret, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi inti juga turun tipis ke 2,44 persen, mencerminkan tekanan harga yang masih relatif terkendali.

Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, ditopang kebijakan subsidi pemerintah yang menahan dampak kenaikan harga global, terutama pada sektor energi.

Para ekonom menilai inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran target 1,5–3,5 persen hingga 2027, meski ketidakpastian global dan tekanan harga energi tetap menjadi risiko utama ke depan.


SUMBER:TRT Indonesia & Agensi