Usulan balasan terbaru Iran terhadap rencana perdamaian AS menuntut kompensasi dari Amerika Serikat dan menegaskan kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz, lapor stasiun penyiaran negara Iran Press TV.
Laporan itu mengatakan proposal tersebut juga menuntut pengakhiran sanksi dan pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Teheran menolak rencana AS karena rencana itu akan mengharuskan mereka tunduk pada "tuntutan berlebihan" Presiden Donald Trump, menurut laporan itu.
Tanggapan Iran juga menekankan "hak-hak dasar bangsa Iran."
Trump mengatakan pada hari Minggu di platform Truth Social bahwa ia telah meninjau tanggapan terbaru Iran dan menggambarkannya sebagai "sama sekali tidak dapat diterima."
Drone ditembak jatuh
Tentara Iran juga mengatakan pada awal Senin bahwa sistem pertahanan udaranya menembak jatuh sebuah "drone pengintai musuh" di wilayah barat daya negara itu.
Kantor hubungan publik angkatan darat mengatakan drone itu dicegat dan dihancurkan oleh jaringan pertahanan udara terpadu Iran, menurut kantor berita resmi IRNA.
Pernyataan itu mengatakan drone tersebut dijatuhkan oleh unit-unit yang beroperasi di bawah komando markas gabungan pertahanan udara Iran di barat daya Iran.
Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah Trump menolak tanggapan terbaru Teheran terhadap rencana perdamaian Amerika.
Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan oleh Teheran dan mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan perjanjian yang bertahan lama.
Gencatan itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Sejak 13 April, AS memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis itu.

















