DUNIA
3 menit membaca
Perang Rusia di Ukraina melampaui durasi perang Soviet melawan Nazi Jerman
Kerugian besar dan perang parit mewarnai konflik berkepanjangan Rusia di Ukraina, sementara upaya damai masih menemui jalan buntu.
Perang Rusia di Ukraina melampaui durasi perang Soviet melawan Nazi Jerman
Tentara Rusia mengisi senjata mereka untuk menembak ke arah posisi Ukraina di lokasi yang dirahasiakan di Ukraina, 2 Oktober 2025 (FILE) / AP
12 jam yang lalu

Bulan lalu, perang skala penuh Rusia melawan Ukraina melewati ambang simbolis yang kelam: 1.418 hari. Artinya, durasi konflik ini kini secara resmi lebih lama dibanding waktu yang dibutuhkan Uni Soviet untuk mengalahkan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Bagi Kremlin yang kerap mengandalkan warisan “Perang Patriotik Raya”, perbandingan ini menjadi pengingat yang getir. Jika Tentara Merah dulu mampu melaju hingga ke Berlin, kampanye militer Moskow saat ini justru tersendat dalam pertempuran melelahkan demi menguasai kawasan industri timur Ukraina.

Apa yang dimulai pada Februari 2022 sebagai serangan kilat yang gagal untuk merebut Kiev dan menggulingkan pemerintahan Ukraina kini berubah menjadi garis depan statis sepanjang 1.200 kilometer dengan perang parit brutal.

Biaya dari kebuntuan ini sangat besar. Dengan hampir 2 juta tentara diperkirakan tewas, terluka, atau hilang, perang ini menjadi konflik paling berdarah di Eropa sejak 1945.

Rusia kini menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi secara ilegal pada 2014. Namun, keuntungan teritorial sejak invasi 24 Februari 2022 berjalan lambat dan dibayar mahal.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte baru-baru ini membandingkan laju ofensif Moskow dengan “kecepatan siput taman.” Di wilayah Donetsk, pasukan Rusia hanya bergerak maju sekitar 50 kilometer dalam dua tahun terakhir melalui pertempuran sengit memperebutkan titik-titik pertahanan utama.

Lembaga pemikir yang berbasis di Washington, Centre for Strategic and International Studies, memperkirakan korban di pihak Rusia mencapai 1,2 juta orang, termasuk 325.000 tewas. Sementara kerugian Ukraina diperkirakan mencapai 600.000 personel, dengan hingga 140.000 di antaranya meninggal dunia.

Lembaga tersebut menyebut Rusia mengalami tingkat korban tertinggi yang pernah dialami kekuatan besar mana pun dalam perang sejak Perang Dunia II, dengan rata-rata kemajuan hanya sekitar 70 meter per hari selama dua tahun dalam upayanya merebut pusat transportasi seperti Pokrovsk.

Penggunaan drone telah mengubah medan perang secara drastis, membuat hampir mustahil bagi kedua pihak untuk mengerahkan pasukan dalam jumlah besar tanpa terdeteksi. Ukraina pada awalnya memanfaatkan drone untuk menutup ketertinggalan daya tembak dari Rusia, namun Moskow kemudian memperluas operasinya, termasuk menggunakan drone dengan kabel serat optik yang mampu menghindari gangguan elektronik.

Kombinasi perang drone berteknologi tinggi dan pertempuran parit ala Perang Dunia I memaksa unit infanteri kecil menyusup ke kota-kota yang hancur di bawah pengawasan konstan. Distribusi logistik ke garis depan serta evakuasi korban luka pun menjadi semakin berisiko.

Rusia juga meningkatkan serangan jarak jauh ke infrastruktur energi Ukraina, memicu pemadaman listrik berulang di Kiev dan kota-kota lain selama musim dingin. Jaringan listrik nasional turut menjadi sasaran, termasuk jalur transmisi utama.

Ukraina membalas dengan serangan drone dan rudal ke kilang minyak serta aset militer Rusia, menenggelamkan beberapa kapal perang di Laut Hitam dan memaksa Moskow memindahkan armadanya dari Krimea ke Novorossiysk. Dalam operasi berani berkode “Spiderweb”, drone Ukraina yang diluncurkan dari truk menghantam pangkalan udara jauh di dalam wilayah Rusia dan merusak pembom jarak jauh.

Upaya perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat sejauh ini gagal akibat tuntutan yang saling bertolak belakang. Presiden Vladimir Putin bersikeras Ukraina harus menarik diri dari empat wilayah yang diklaim Moskow, meninggalkan ambisi bergabung dengan NATO, membatasi militernya, serta memberikan status resmi bagi bahasa Rusia. Ukraina menolak syarat tersebut.

Presiden Volodymyr Zelenskyy menyerukan gencatan senjata di sepanjang garis depan saat ini, namun menolak konsesi wilayah tanpa jaminan keamanan yang kuat.

Kedua pihak saling menuduh menghambat negosiasi. Sejumlah analis menilai, di luar persoalan wilayah, tujuan lebih luas Moskow adalah memastikan Ukraina tetap berada dalam lingkup pengaruh Rusia.

Meski sanksi Barat, inflasi, dan kekurangan tenaga kerja menekan ekonomi Rusia, produksi pertahanan terus meningkat dan kelompok sosial kunci relatif terlindungi dari dampak terburuk. Terlepas dari biaya yang terus membengkak dan kemajuan militer yang sangat lambat, Kremlin dinilai masih mampu mempertahankan perang untuk saat ini.

SUMBER:AP