Indonesia manfaatkan dana JETP dan AZEC senilai $3,5 miliar untuk ekonomi hijau
Pemerintah mempercepat pengembangan industri hilir baterai kendaraan listrik dan panel surya. Di saat yang sama, kebijakan pencampuran bahan bakar nabati ditingkatkan dari B40 menuju B50.
Pemerintah Indonesia telah memanfaatkan sekitar $3,5 miliar dari skema pendanaan Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC) untuk mempercepat pembangunan ekonomi hijau nasional. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Selasa.
Airlangga menjelaskan bahwa keseluruhan komitmen pendanaan JETP untuk Indonesia mencapai $21,4 miliar, sementara AZEC menyediakan alokasi sebesar $500 juta.
“Percepatan program AZEC dan JETP mencerminkan komitmen Indonesia dalam mendorong ekonomi hijau,” ujar Airlangga.
Selain dukungan internasional, pemerintah juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp404,2 triliun atau sekitar $24 miliar dalam APBN 2026 untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk melalui berbagai inisiatif berbasis energi bersih.
Untuk mengakselerasi agenda tersebut, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis. Di antaranya adalah Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) serta Green Bond Development Facility (GBDF), yang pendanaannya bersumber dari JETP.
Proyek strategis energi bersih
Indonesia juga berupaya memaksimalkan potensi energi terbarukan nasional yang diperkirakan mencapai 3.686 gigawatt. Dalam kerangka itu, pemerintah merancang pembangunan jaringan transmisi hijau sepanjang 70 kilometer yang disebut sebagai green supergrid.
Melalui superholding Danantara, Indonesia juga berkomitmen membangun pembangkit listrik berbasis pengolahan sampah menjadi energi. Fasilitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada Maret 2026.
Airlangga menambahkan, pemerintah mempercepat pengembangan industri hilir baterai kendaraan listrik dan panel surya, serta kebijakan pencampuran bahan bakar nabati ditingkatkan dari B40 menuju B50.
Indonesia juga mengembangkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan, hidrogen, dan amonia hijau. Implementasi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon serta penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) turut dipercepat sebagai bagian dari strategi transisi energi.
Menurut Airlangga, penguatan ekonomi hijau berpotensi menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2029. Langkah-langkah tersebut menandai upaya Indonesia untuk mengintegrasikan pendanaan global dan kebijakan domestik dalam mendorong transformasi menuju ekonomi rendah karbon.