Indonesia dan Filipina sepakati perluasan kerja sama militer

TNI dan Angkatan Bersenjata Filipina mempererat kemitraan strategis melalui kesepakatan latihan bersama, pertukaran intelijen, hingga kolaborasi logistik militer guna menjaga stabilitas di Laut Sulu dan Laut Sulawesi.

By
Jenderal Agus dan Jenderal Brawner gelar Philindo ke-5 di Jakarta, Rabu (4/8/2026). Foto: X/Puspen_TNI

Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata Filipina (Armed Forces of the Philippines/AFP) resmi menyepakati penguatan kerja sama militer dalam pertemuan tingkat tinggi di Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons atas dinamika keamanan regional yang kian kompleks di kawasan Asia Tenggara.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan 5th Philippine-Indonesia Military Cooperation Meeting yang berlangsung pada Rabu (8/4). Kedua negara tetangga ini sepakat bahwa kolaborasi yang lebih erat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan keamanan bersama.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan pada Jumat (10/4) bahwa pembahasan mencakup berbagai sektor krusial, mulai dari intensitas latihan militer gabungan, pertukaran personel untuk pendidikan militer, hingga pembagian pengetahuan terkait teknologi pertahanan terkini.

"Melalui kerja sama yang erat, Indonesia dan Filipina diharapkan dapat lebih baik dalam menjawab tantangan regional serta mempromosikan kawasan yang damai, aman, dan makmur," ujar Mayjen Aulia. Ia juga menekankan pentingnya implementasi kemitraan ini secara efektif dan berkelanjutan.

Fokus pada logistik dan patroli terkoordinasi

Di sisi lain, Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Romeo Brawner Jr., mengungkapkan ketertarikannya untuk memperluas cakupan kerja sama ke sektor logistik militer. Menurut laporan kantor berita Philippine News Agency, Manila memandang Jakarta sebagai mitra strategis dalam memperkuat rantai pasok pertahanan.

"Kami ingin mengeksplorasi kemungkinan bagi kedua negara untuk berkoordinasi dan berkolaborasi dalam logistik militer," ungkap Jenderal Brawner dalam keterangannya di Quezon City, Jumat.

Selain aspek logistik, kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan operasi gabungan, khususnya patroli terkoordinasi di wilayah perbatasan laut yang rawan, yakni Laut Sulu dan Laut Sulawesi. Wilayah ini secara historis menjadi perhatian khusus kedua negara karena aktivitas lintas batas ilegal dan ancaman keamanan maritim.

Konteks stabilitas regional

Langkah Indonesia dan Filipina ini menjadi krusial mengingat posisi geografis keduanya yang berbatasan langsung di wilayah perairan strategis. Penguatan pertukaran intelijen dan pelatihan bersama ini tidak hanya bertujuan memperkuat kapabilitas militer masing-masing negara, tetapi juga mengirimkan pesan stabilitas di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Laut China Selatan yang berdekatan dengan wilayah kedua negara.

Bagi Indonesia, kerja sama ini selaras dengan diplomasi pertahanan aktif yang diusung Jakarta untuk memastikan stabilitas di kawasan ASEAN, sekaligus memperkuat pengawasan di wilayah terluar yang berbatasan dengan Filipina.