DUNIA
3 menit membaca
Unjuk rasa menolak pusat karantina Ebola dukungan AS di Kenya berujung maut
Kenya belum pernah mencatat kasus Ebola, dan banyak pihak menolak rencana membawa orang yang berpotensi terinfeksi penyakit sangat menular itu ke negara tersebut.
Unjuk rasa menolak pusat karantina Ebola dukungan AS di Kenya berujung maut
Protes di Kenya menentang rencana karantina Ebola yang didukung AS. / Foto: Reuters

Sedikitnya satu orang tewas ketika polisi Kenya terlibat bentrokan dengan ratusan pengunjuk rasa dan menembakkan gas air mata dalam aksi penolakan terhadap pembangunan pusat karantina Ebola bagi warga Amerika Serikat di sebuah kota wisata.

Fasilitas yang dibangun di Pangkalan Udara Laikipia, di kota Nanyuki yang berada di kaki Gunung Kenya, itu akan digunakan untuk mengarantina warga Amerika yang datang dari Republik Demokratik Kongo (DRC), yang saat ini tengah menghadapi wabah Ebola besar.

Kenya belum pernah mencatat kasus Ebola, dan banyak warga menentang gagasan membawa orang yang berpotensi menjadi pembawa penyakit yang sangat menular tersebut ke negara mereka.

Bentrokan terjadi di berbagai titik di sekitar Nanyuki ketika para pengunjuk rasa membakar ban dan melempari polisi dengan batu pada Selasa. Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air.

Suara tembakan terdengar di tengah kericuhan, dan seorang pria terlihat tergeletak tanpa bergerak setelah tertembak di bagian kepala, lapor AFP.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan seorang lainnya mengalami luka akibat terkena tabung gas air mata.

"Kematiannya telah dikonfirmasi. Kami sedang menunggu keluarganya," kata Direktur LSM Vocal Africa, Hussein Khalid, mengenai pria yang tertembak tersebut.

Puluhan orang ditangkap, termasuk oleh polisi bersenjata yang mengenakan pakaian sipil.

Pekan lalu, pengadilan Kenya memperpanjang penangguhan pembangunan pusat karantina Ebola selama tiga pekan dan memerintahkan pemerintah mengungkap perjanjian yang menjadi dasar proyek tersebut.

Amerika Serikat berupaya bersikap hati-hati dan tidak memberikan komentar terbuka terkait proses hukum maupun aksi protes tersebut. Washington menegaskan tetap bekerja sama erat dengan pemerintah Kenya.

Fasilitas itu direncanakan memiliki 50 tempat tidur isolasi dan akan dikelola oleh staf asal Amerika Serikat. Pembangunannya hampir rampung pada akhir pekan lalu.

Pekerjaan konstruksi tetap berlanjut meski ada perintah penghentian sementara dan penolakan dari sejumlah politisi lokal di Laikipia.

Kelompok hak asasi manusia menyebut aksi protes sebelumnya pada 1 Juni menewaskan dua orang, meski penyebab pasti kematian mereka masih belum jelas.

Kesepakatan kesehatan yang kontroversial

Pemerintahan Presiden William Ruto bertekad melanjutkan proyek tersebut dengan alasan Kenya memiliki utang budi kepada Washington atas dukungan bantuan selama bertahun-tahun.

Amerika Serikat juga telah menjanjikan bantuan sebesar 13,5 juta dolar AS untuk memperkuat kesiapsiagaan Kenya menghadapi Ebola.

"Rakyat dan pemerintah Amerika telah menjadi mitra kami dalam bidang kesehatan selama hampir 25 hingga 30 tahun," kata Ruto pekan lalu.

"Akan sangat disayangkan jika hanya karena satu permintaan dari Amerika untuk membangun fasilitas dengan biaya mereka sendiri, kami menolaknya. Itu akan terlihat sangat tidak manusiawi."

Menteri Kesehatan Kenya menyatakan fasilitas tersebut akan digunakan untuk warga Kenya maupun warga Amerika, meski pesan serupa tidak disampaikan oleh pemerintah AS.

Namun para pengunjuk rasa bersikeras agar Amerika Serikat menangani persoalan tersebut di wilayahnya sendiri.

Pembangunan fasilitas ini dilakukan setelah adanya kesepakatan kesehatan kontroversial antara AS dan Kenya tahun lalu, yang membuat negara Afrika itu sepakat menyerahkan sejumlah besar data kesehatan sebagai imbalan atas bantuan senilai miliaran dolar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo sebagai keadaan darurat kesehatan internasional. Hingga kini tercatat 550 kasus terkonfirmasi, termasuk 101 kematian.

SUMBER:TRT World & Agencies