ASIA
2 menit membaca
Bangkit dari bencana, jemaat di Tapanuli Selatan gelar misa Natal perdana pasca banjir
Umat Kristen di Sumatera tetap menggelar misa Natal meski masih dibayangi duka akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut empat pekan lalu. Ibadah berlangsung sederhana di tengah puing-puing sisa bencana.
Bangkit dari bencana, jemaat di Tapanuli Selatan gelar misa Natal perdana pasca banjir
Bangkit dari Bencana, Jemaat di Sumatera Gelar Misa Natal Perdana Pasca banjir / AFP

Puluhan jemaat mengikuti misa Natal di Gereja Protestan Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera, Rabu (24/12). Ibadah ini menjadi perayaan Natal pertama sejak banjir bandang mematikan menerjang wilayah tersebut.

Gereja tampak dihias balon dan dekorasi Natal sederhana. Namun di luar bangunan, jalan menuju gereja masih tertutup lumpur, kayu, dan dedaunan yang terbawa banjir. Banyak jemaat diketahui masih tinggal di lokasi pengungsian akibat rumah mereka rusak atau hanyut.

Salah seorang jemaat, Krismanto Nainggolan, mengatakan perayaan Natal tahun ini terasa sangat berbeda. “Perasaannya campur aduk. Setiap kata dalam khotbah pendeta membuat kami ingin menangis,” ujarnya. Meski demikian, ia menyebut semangat Natal memberi kekuatan untuk bangkit. Krismanto kehilangan rumahnya dalam bencana tersebut, sementara sejumlah tetangganya meninggal dunia.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir besar di Sumatera menewaskan 1.129 orang, sementara lebih dari 170 lainnya masih dinyatakan hilang. Meski Indonesia kerap dilanda hujan lebat saat musim monsun, bencana kali ini disebut sebagai salah satu yang terparah di Sumatera sejak tsunami 2004.

Jemaat lain, Mea Rosmawati Zebua (54), mengaku tak menyangka masih bisa merayakan Natal tahun ini. “Dulu Natal itu rutinitas. Sekarang kami sangat bersyukur karena masih diberi napas kehidupan,” katanya.

Pendeta Gereja Protestan Angkola, Yansen Roberto Ritonga, menjelaskan misa Natal dimajukan ke sore hari karena adanya prakiraan hujan pada malam hari. Sebelum ibadah digelar, gereja harus dibersihkan dari timbunan lumpur yang masuk saat banjir, dengan bantuan aparat TNI dan Polri.

Sekitar 30 jemaat mengikuti misa dengan menyalakan lilin dan menyanyikan lagu-lagu Natal. Menurut Pendeta Yansen, Natal tahun ini menjadi momen refleksi dan penguatan iman bagi jemaat.

Krismanto menambahkan, di tengah kerusakan dan kehilangan, ia memilih memaknai Natal sebagai awal yang baru. “Harapan kami hanya bergantung kepada Tuhan, karena kami benar-benar memulai dari nol,” ujarnya.

SUMBER:TRT Indonesia & Agensi