Negara-negara ASEAN perketat penghematan energi di tengah gejolak Timur Tengah
Efisiensi menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian krisis energi saat ini, berikut bagaimana sejumlah negara anggota ASEAN mempercepat langkah penghematan energi sebagai respons atas konflik di Timur Tengah.
Sejumlah negara Asia Tenggara mempercepat langkah penghematan energi dan perlindungan ekonomi domestik seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) akibat krisis pasokan minyak global usai perang di Timur Tengah meluas antara AS-Israel dan Iran.
Kebijakan yang diambil bervariasi, mulai dari pembatasan mobilitas hingga peningkatan subsidi, mencerminkan perbedaan kapasitas cadangan energi dan struktur ekonomi masing-masing negara.
Thailand
Thailand menjadi salah satu negara dengan respons agresif di sektor konsumsi energi. Pemerintah Thailand menerapkan kebijakan kerja dari rumah bagi pegawai negeri dan membatasi perjalanan dinas, sembari mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan listrik.
Dengan cadangan minyak minimal sekitar 90 hari, Bangkok memiliki ruang manuver yang relatif besar untuk meredam dampak jangka pendek.
Filipina
Di Filipina, pemerintah memangkas hari kerja kantor menjadi empat hari per minggu dan menargetkan pengurangan penggunaan listrik serta bahan bakar di instansi pemerintah hingga 20 persen.
Pihak berwenang mengatakan bahwa negara memiliki cadangan minyak sekitar 30 hari, sehingga efisiensi menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas pasokan.
Indonesia
Pemerintah Indonesia mengkombinasikan kebijakan penghematan dengan percepatan transisi energi.
Pemerintah mendorong implementasi biodiesel B50 dan bensin campuran etanol E20, sekaligus memperluas penggunaan kendaraan listrik. Skema kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara dan pembatasan perjalanan dinas juga diberlakukan.
Cadangan minyak Indonesia berada di kisaran 24 hari, menurut pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia awal bulan ini.
Malaysia dan Singapura
Malaysia dan Singapura memilih fokus pada perlindungan masyarakat dari lonjakan harga energi.
Kuala Lumpur meningkatkan anggaran subsidi BBM guna menahan tekanan biaya hidup, disertai imbauan konsumsi energi secara bijak.
Singapura, yang memiliki cadangan minyak hingga 90 hari, menyalurkan bantuan biaya hidup tambahan serta meningkatkan subsidi untuk listrik, air, dan gas, khususnya bagi kelompok rentan.
Vietnam dan Laos
Sementara itu, Vietnam dan Laos mengambil pendekatan berbasis pengendalian konsumsi. Hanoi mendorong kerja jarak jauh, penggunaan transportasi publik, dan kendaraan listrik untuk menekan permintaan BBM, dengan cadangan sekitar 15 hari.
Laos, yang memiliki cadangan paling terbatas sekitar 10 hari, menurunkan harga BBM untuk menahan inflasi sekaligus meminta masyarakat mengurangi perjalanan tidak esensial.
Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk penyaluran minyak dari Timur Tengah ke benua Asia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang distribusi pasokan minyak dunia.
Badan Energi dunia (IEA) minggu lalu mengatakan bahwa perang antara AS-Israel dan Iran di Timur Tengah saat ini telah menyebabkan guncangan pasokan serta lonjakan harga terbesar sepanjang sejarah.
Selain negara-negara Asia Tenggara, sejumlah negara Asia lain juga mengambil langkah efisiensi energi yang sama, contohnya Bangladesh dan Pakistan yang meliburkan universitas-universitas untuk menghemat energi. Jepang, Korea dan China juga dilaporkan sedang menimbang langkah-langkah antisipatif atas krisis energi yang dipicu oleh gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, efisiensi dan diversifikasi energi menjadi kunci dalam menghadapi potensi gangguan pasokan ke depan.