Empat embrio manusia, seorang kurir asal Israel, dan sebuah tabung bertuliskan “Life Parcel”.
Ketika polisi perbatasan TRNC menghentikan seorang pria yang hendak meninggalkan Bandara Ercan pekan lalu, temuan di dalam kopernya membuka kembali dugaan praktik perdagangan ilegal yang selama bertahun-tahun coba didokumentasikan otoritas, sementara Israel disebut terus membantah tuduhan tersebut.
Embrio-embrio itu ditelusuri berasal dari Vita Altera IVF, sebuah klinik di Lefkosa yang menurut otoritas tidak memiliki izin hukum untuk memindahkan material biologis keluar dari wilayah tersebut.
Dua tersangka lain yang terkait dengan klinik tersebut juga ditangkap. Perusahaan kurir di balik pengiriman itu, LifeParcel, didirikan oleh embriolog asal Israel, Aharon Peretz, dan menjalankan operasi logistik IVF internasional. Hingga kini, tujuan akhir pengiriman embrio tersebut masih dalam penyelidikan.
Otoritas TRNC saat ini menangani kasus itu sebagai pelanggaran izin, namun pertanyaan lebih luas mulai muncul dari rekam jejak kasus serupa sebelumnya.
Pasokan tanpa sumber yang jelas
Israel mengoperasikan bank kulit terbesar di dunia.
Di sisi lain, negara itu juga memiliki salah satu tingkat donor organ terendah di negara-negara Barat, yakni sekitar 14 persen.
Ketimpangan angka tersebut selama bertahun-tahun memunculkan pertanyaan mengenai sumber pasokan organ, meski sebelumnya sulit dibuktikan secara pasti.
Situasi itu berubah setelah pengakuan datang dari dalam Israel sendiri. Dalam sebuah wawancara, patolog Israel Yehuda Hiss, mantan kepala Institut Forensik Israel, mengakui bahwa organ-organ tubuh warga Palestina yang meninggal, termasuk kulit, kornea mata, katup jantung, dan tulang, pernah “diambil” tanpa persetujuan keluarga mereka.
Wawancara tersebut dilakukan pada tahun 2000, namun kembali mendapat perhatian luas setelah media Swedia Aftonbladet menerbitkan investigasi besar pada 2009 yang menuduh tentara Israel mengambil organ tubuh warga Palestina yang meninggal dalam tahanan.
Pada Agustus 2014, The New York Times melaporkan bahwa warga Israel memainkan peran “tidak proporsional” dalam perdagangan organ global, dengan para perantara transplantasi memperoleh keuntungan sangat besar.

Tuduhan pencurian organ
Praktik serupa disebut terus berlangsung dan terdokumentasi selama perang di Gaza.
Pada Oktober 2024, otoritas Gaza mengumumkan bahwa 120 jenazah telah dikembalikan melalui Komite Internasional Palang Merah dalam kurun tiga hari berturut-turut.
Direktur kantor media pemerintah Gaza, Ismail Thawabta, mengatakan sebagian besar jenazah tiba dalam kondisi mengenaskan dengan tanda-tanda eksekusi lapangan dan penyiksaan sistematis. Beberapa jenazah dikembalikan dalam keadaan mata tertutup dan tangan terikat, sementara lainnya menunjukkan bekas cekikan.
Ia juga menyebut sejumlah bagian tubuh hilang dari banyak jenazah, termasuk mata, kornea, dan organ lainnya, yang menurutnya menjadi bukti bahwa organ-organ tersebut diambil saat jenazah berada dalam penahanan militer Israel.
Saat itu, Israel disebut masih menahan jenazah 735 tahanan Palestina, termasuk 67 anak-anak.
Temuan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada November 2015, Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Ban Ki-moon, yang menyatakan pemeriksaan medis terhadap jenazah yang dikembalikan menemukan adanya organ tubuh yang hilang.
Selain dugaan pengambilan organ, Israel juga disebut secara sistematis menahan jenazah warga Palestina di pemakaman militer yang dikenal sebagai “cemeteries of numbers”. Dalam praktik itu, jenazah dikuburkan dengan kedalaman kurang dari 50 sentimeter, diberi nomor alih-alih nama, serta aksesnya dibatasi bagi keluarga maupun lembaga hak asasi manusia.
Pada 2017, otoritas Israel mengakui kehilangan sejumlah jenazah warga Palestina yang dikuburkan di lokasi tersebut, sementara dokumen terkait pemakaman dilaporkan telah dihancurkan.
Di tengah konteks itulah insiden Bandara Ercan kembali mencuat.
Otoritas TRNC masih menyelidiki kasus tersebut dan belum dapat memastikan ke mana embrio-embrio itu hendak dikirim serta alasan penggunaan jaringan kurir yang terkait dengan Israel.
Namun bagi banyak pihak, rangkaian kasus organ hilang, dokumen yang dihancurkan, hingga jenazah yang dikembalikan dalam kondisi tidak utuh, terus mengarah pada pola yang sama.











