ASIA
2 menit membaca
ASEAN nilai konflik AS-Iran ganggu stabilitas ekonomi, dorong koordinasi pasokan energi
ASEAN sepakat hindari pembatasan perdagangan, percepat perjanjian dagang, dan dorong penguatan jaringan listrik kawasan
ASEAN nilai konflik AS-Iran ganggu stabilitas ekonomi, dorong koordinasi pasokan energi
Para Menteri Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC), mengadakan Pertemuan Khusus Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tanggal 30 April 2026.

Blok negara Asia Tenggara (ASEAN) mengakui ketegangan akibat konflik Amerika Serikat dan Iran mulai berdampak pada stabilitas ekonomi kawasan. ASEAN pun bergerak mengoordinasikan pasokan energi di antara negara anggotanya.

Menteri Perdagangan Filipina Cristina Roque mengatakan ketegangan geopolitik saat ini sudah mulai dirasakan dampaknya terhadap perekonomian regional.

“Kami melihat ketegangan geopolitik sudah memengaruhi stabilitas ekonomi di kawasan,” ujarnya dalam konferensi pers.

Menurut dia, dampak tersebut mencakup tekanan terhadap pasokan energi, kenaikan biaya transportasi dan logistik, serta meningkatnya risiko terhadap ketahanan pangan.

Filipina, yang menjadi negara pertama menetapkan status darurat ekonomi akibat konflik AS-Iran, saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN.

Pernyataan itu disampaikan Roque usai memimpin rapat khusus secara virtual yang membahas tantangan global dan upaya menjaga ketahanan kawasan.

ASEAN sepakat jaga keterbukaan perdagangan

Dalam pertemuan tersebut, ASEAN sepakat menjaga perdagangan tetap terbuka dan dapat diprediksi, serta menghindari kebijakan pembatasan perdagangan, termasuk larangan ekspor barang-barang penting.

“Dalam situasi ketidakpastian, kepastian adalah stabilitas, dan stabilitas dimulai dari menjaga arus barang lintas negara tetap berjalan,” kata Roque.

Selain itu, ASEAN juga akan memperkuat dan mempercepat implementasi perjanjian perdagangan bebas yang sudah ada, serta mendorong percepatan pengembangan jaringan listrik kawasan (ASEAN power grid).

Roque menilai penguatan konektivitas energi akan memungkinkan negara anggota berbagi sumber daya secara lebih efektif sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap guncangan energi eksternal.

Krisis energi global saat ini dipicu gangguan di Selat Hormuz sejak konflik Timur Tengah memanas pada akhir Februari. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari, sehingga meningkatnya ketidakamanan mendorong lonjakan harga minyak serta biaya pengiriman dan asuransi.

Asia Tenggara sendiri bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 60 persen impor minyaknya, berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2024.

Filipina mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya, diikuti Thailand 79,5 persen dan Vietnam 56,8 persen. Brunei bergantung pada impor sebesar 41,3 persen, sementara Indonesia dan Malaysia relatif lebih rendah masing-masing 35,2 persen dan 15,6 persen.

ASEAN beranggotakan 11 negara, yakni Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

Filipina dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT ASEAN pada 7–8 Mei di Cebu.

TerkaitTRT Indonesia - Prabowo akan hadiri KTT ASEAN ke-48 di Filipina, dampak perang AS-Iran jadi agenda utama
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi