Di tengah konflik kawasan, Türkiye dinilai tetap jadi simbol stabilitas
TÜRKİYE
6 menit membaca
Di tengah konflik kawasan, Türkiye dinilai tetap jadi simbol stabilitasDi tengah gejolak regional dan global, Türkiye dinilai tetap menjadi penjamin keamanan, jembatan diplomasi, sekaligus pusat ekonomi.
Bendera Türkiye dan NATO berkibar menjelang KTT NATO di Ankara, 4 Juli 2026. / Reuters

Saat Ankara menjadi tuan rumah KTT NATO ke-36, perhatian dunia tertuju pada Türkiye yang dinilai tetap menjadi "pulau ketenangan" di tengah salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Timur Tengah dan dinamika global.

Presiden Recep Tayyip Erdogan akan menyambut para pemimpin dari 30 negara Eropa dan dua negara Amerika Utara dalam KTT NATO yang digelar pada 7-8 Juli. Ini menjadi kali pertama sejak 2004 Türkiye kembali menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi aliansi tersebut.

Setelah Amerika Serikat, Türkiye memiliki kekuatan militer terbesar di NATO. Negara ini juga memiliki salah satu armada laut terkuat serta kekuatan kapal selam terbesar di kawasan Mediterania dan Laut Hitam.

KTT NATO tahun ini berlangsung di tengah situasi yang krusial. Dampak perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu ketidakstabilan di kawasan Teluk.

Di saat yang sama, perang Rusia-Ukraina masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan mereda.

Sementara itu, Amerika Serikat juga mulai mengurangi komitmen internasionalnya, termasuk mengurangi aset militer yang dapat dikerahkan NATO saat krisis, sembari mendorong negara-negara anggota meningkatkan belanja pertahanan mereka sendiri.

Di tengah berbagai konflik tersebut, para analis geopolitik dan pertahanan menilai Türkiye berhasil mempertahankan posisinya sebagai penjamin keamanan, penghubung diplomatik, sekaligus kawasan yang relatif aman secara ekonomi.

Mereka menilai strategi Türkiye yang mengedepankan keseimbangan, antisipasi, dan keterlibatan aktif memungkinkan negara itu membatasi dampak berbagai krisis sekaligus memperkuat perannya di sayap selatan NATO yang meliputi kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Ancaman paling nyata yang dihadapi Ankara, menurut para pakar, berasal dari rudal balistik yang berkaitan dengan konflik Iran.

Direktur Haydar Aliyev Centre for Eurasian Studies di Universitas Ibn Haldun, Yasar Sari, mengatakan kepada TRT World bahwa Türkiye beberapa kali menggunakan sistem pertahanan udara dan rudal NATO untuk mencegat rudal balistik Iran yang memasuki atau mendekati wilayah udaranya. Sejak konflik dimulai, sedikitnya tiga rudal berhasil dicegat.

Menurutnya, insiden tersebut menunjukkan kemampuan Türkiye mengelola ancaman secara cepat, sekaligus memperlihatkan tantangan strategis bagi NATO dalam merespons serangan yang belum memenuhi syarat penerapan Pasal 5 tanpa memicu eskalasi yang lebih luas.

Pasal 5 NATO menetapkan bahwa serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota aliansi.

"Sikap hati-hati Türkiye mencerminkan upayanya menyeimbangkan kebutuhan mempertahankan diri dengan menghindari keterlibatan yang lebih dalam dalam konflik," kata Sari.

Pakar pertahanan sekaligus profesor hukum internasional dan keamanan, Mesut Hakki Casin, mengatakan sikap defensif Türkiye juga terlihat dari kontribusinya di berbagai kawasan konflik.

Di Laut Hitam, Türkiye tetap menerapkan Konvensi Montreux 1936 dengan membatasi lalu lintas kapal perang dari negara-negara yang terlibat dalam perang Rusia-Ukraina, ujar Casin kepada TRT World.

Bersama Rumania dan Bulgaria, Ankara juga menjalankan operasi pembersihan ranjau laut guna menjaga keamanan garis pantai Laut Hitam dan Selat Turki.

Selain itu, Türkiye memasok kapal perang berteknologi tinggi kepada Rumania dan Ukraina serta mengirimkan drone TB2 sesuai perencanaan NATO, yang menurut Casin "mengubah jalannya perang".

Di kawasan Mediterania, Türkiye menggelar latihan militer laut berskala besar yang melibatkan 150 kapal dan 20.000 personel untuk menegaskan kepentingannya terkait Siprus, Kepulauan Aegea, wilayah perairan, zona ekonomi eksklusif, dan sumber daya energi.

Saat ini Türkiye juga mendukung NATO dengan mengerahkan 50 kapal perang serta mengekspor berbagai perlengkapan pertahanan kepada sesama anggota aliansi.

TerkaitTRT Indonesia - Ekspor pertahanan Türkiye mencapai $11 miliar seiring peningkatan penjualan ke sekutu NATO

Diplomasi aktif dan jalur komunikasi terbuka

Profesor Universitas Hasan Kalyoncu, Ahmet Keser, mengatakan kepada TRT World bahwa kekuatan militer dan diplomasi Türkiye juga memberikan dampak strategis di Suriah dan Libya.

Dengan mempertahankan kehadiran yang bertujuan memulihkan stabilitas di kedua negara tersebut, Türkiye dinilai membantu mencegah munculnya krisis global yang lebih besar, termasuk gelombang migrasi baru.

Para pakar juga menilai Türkiye secara konsisten menolak berpihak secara eksklusif kepada blok tertentu dan tetap membuka jalur komunikasi dengan seluruh aktor penting di kawasan.

Keser menjelaskan Türkiye mempertahankan komunikasi diplomatik resmi maupun dialog langsung di tingkat pemimpin sebagai bagian dari kebijakan luar negeri yang "seimbang dan tidak memihak" serta berlandaskan hukum internasional.

Pendekatan itu juga diwujudkan melalui berbagai upaya mediasi maupun dukungan terhadap mediator lain guna mencegah eskalasi dan meluasnya konflik.

Sari menambahkan bahwa Türkiye tetap membuka komunikasi dengan seluruh pihak yang bertikai, "kecuali Israel", sehingga dapat berperan sebagai mediator netral sekaligus basis yang andal bagi operasi maupun diplomasi.

Casin menyoroti sejumlah langkah terbaru, termasuk kunjungan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan ke berbagai negara di kawasan serta latihan taktis bersama Türkiye, Mesir, dan Pakistan sebagai bagian dari persiapan menghadapi berbagai kemungkinan terburuk bersama Arab Saudi.

Hadapi tantangan energi dan ekonomi

Sebagian besar negara mengalami gangguan serius terhadap pasokan minyak dan gas akibat penutupan Selat Hormuz selama berbulan-bulan. Jalur sempit antara Oman dan Iran itu sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Namun, langkah antisipatif yang telah disiapkan Türkiye selama bertahun-tahun dinilai berhasil menjaga ketahanan energi negara tersebut ketika harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Sari menyebut keberhasilan itu ditopang oleh diversifikasi sumber pasokan energi, penggunaan jalur transportasi alternatif, serta pemantauan ketat terhadap perkembangan situasi.

Keser menilai fondasi ketahanan tersebut dibangun melalui proyek-proyek jangka panjang seperti pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan, TurkStream yang menyalurkan gas Rusia ke Eropa, serta transformasi Türkiye menjadi koridor energi penting yang menghubungkan sumber daya dari utara, Kaukasus, dan Irak.

"Türkiye kini menjadi penjamin keamanan energi, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi banyak negara Barat yang bergantung pada pasokan energi dari luar," ujarnya.

Menurut Keser, krisis di Selat Hormuz semakin menegaskan posisi Türkiye sebagai pusat transit energi yang mampu menyediakan jalur distribusi yang lebih aman dan tangguh terhadap gejolak geopolitik.

Sari menambahkan Türkiye juga tengah memperkuat posisinya sebagai koridor energi alternatif melalui rencana perbaikan dan perluasan pipa minyak Irak-Türkiye yang ditargetkan mampu mengalirkan hingga 1,5 juta barel minyak per hari, serta pengembangan jalur distribusi gas darat dari Qatar dan Turkmenistan.

Para pakar menilai kombinasi keseimbangan geopolitik, stabilitas kelembagaan, dan ketahanan energi membuat Türkiye semakin menarik bagi investor yang ingin memindahkan modal dari kawasan yang dilanda konflik.

Menurut Sari, rantai pasok yang terdiversifikasi serta kepastian regulasi, termasuk perlindungan terhadap investor asing, menjadikan Türkiye sebagai tujuan investasi yang relatif aman di tengah gejolak kawasan.

Pada 2025, produk domestik bruto (PDB) Türkiye mencapai 1,6 triliun dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,6 persen meski kawasan sekitarnya dilanda ketegangan. Pendapatan per kapita juga mencapai 18.040 dolar AS sehingga menempatkan negara itu dalam kelompok berpendapatan tinggi menurut klasifikasi Bank Dunia.

"Ketika konflik mengguncang kawasan Teluk, semakin banyak investor dan perusahaan mencari lokasi baru untuk memindahkan modal maupun operasional mereka. Türkiye kini semakin dilirik perusahaan-perusahaan dari kawasan Teluk dan Asia Timur sebagai alternatif yang lebih aman," kata Sari.

Keser juga menilai konsistensi Ankara dalam mendorong stabilitas dan deeskalasi konflik telah memperkuat citra Türkiye di mata dunia.

"Türkiye semakin dipandang sebagai pulau perdamaian dan stabilitas, sekaligus menjadi rujukan yang kredibel, bahkan penengah yang tidak memihak, dalam berbagai konflik internasional," ujarnya.

SUMBER:TRT World