Kekeringan selama musim kemarau tahun ini telah berdampak pada 30 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, 25 daerah telah menetapkan status siaga kekeringan, menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur. Di Kabupaten Trenggalek, BPBD menyalurkan 34 ribu liter air bersih pada Selasa (18/8) untuk membantu warga di empat desa yang mengalami keterbatasan sumber air.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono mengatakan wilayah terdampak kini mencakup 25 desa di 10 kecamatan. Penyaluran air dilakukan setiap hari dengan menyesuaikan kebutuhan warga dan kondisi masing-masing wilayah, termasuk kawasan pegunungan dan dataran rendah.
Distribusi air melibatkan armada BPBD Trenggalek, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Salah satu titik penyaluran berada di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, termasuk RT 5 dan RT 7 di Dusun Sukorejo serta Dusun Karanggayam. Sekitar 12 kepala keluarga terdampak berada di masing-masing wilayah tersebut.
“Setiap hari kita melaksanakan dropping, ada desa di wilayah kecamatan pegunungan dan di dataran,” kata Triad kepada Antara.
Warga mengatakan kekeringan telah membuat sumber air rumah tangga semakin terbatas. Sringatin, warga Karangsoko, mengatakan sumur di rumahnya mulai mengering sehingga keluarga bergantung pada kiriman air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau kehabisan air biasanya menunggu kiriman. Setiap kekeringan memang menunggu kiriman,” ujarnya.
Menurut Sringatin, jumlah air yang diterima belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama satu hari. Sisa air dari sumur warga kini lebih diprioritaskan untuk memasak dan minum.
BPBD Trenggalek terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan mengatur kembali titik distribusi berdasarkan kebutuhan masyarakat. Kondisi kekeringan yang meluas di sejumlah wilayah Jawa menunjukkan tekanan terhadap ketersediaan air semakin meningkat selama musim kemarau.




















