Tingginya intensitas hujan sejak akhir pekan lalu memicu banjir di Kota Subulussalam, Aceh. Dampaknya, sebanyak 2.255 unit rumah warga di 23 desa yang tersebar di tiga kecamatan terendam air.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, menyampaikan bahwa selain permukiman warga, luapan air juga menerjang akses jalan desa, fasilitas sekolah, tempat ibadah, hingga lahan pertanian serta perkebunan milik warga setempat.
Banjir terjadi setelah hujan deras melanda kawasan tersebut sejak Sabtu (24/10), yang mengakibatkan aliran Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit meluap hingga memasuki permukiman.
BPBA merincikan bahwa wilayah terdampak mencakup empat desa di Kecamatan Sultan Daulat, 19 desa di Kecamatan Rundeng, serta satu desa di Kecamatan Longkib, yakni Desa Panji. Sebanyak 2.255 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak musibah ini.
Meski mayoritas warga memilih bertahan, beberapa di antaranya telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
"Untuk pengungsi, tercatat sebanyak 32 KK, di mana jumlah jiwa masih dalam pendataan. Rinciannya berada di Desa Suak Jampak sebanyak 26 KK, Desa Sibuasan tiga KK, dan Desa Tualang tiga KK," ujar Bahron dalam keterangannya di Banda Aceh, Selasa (3/11).
Hingga saat ini, kondisi banjir di beberapa titik dilaporkan mulai menunjukkan tren surut, khususnya di jalan lintas Kecamatan Sultan Daulat. Namun, genangan air masih bertahan di area permukiman warga di Kecamatan Rundeng dan Longkib.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Subulussalam telah menerjunkan tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi kejadian untuk melakukan kajian cepat, pendataan lanjutan, serta membantu proses evaluasi penanganan darurat di lapangan.




















